S&P Pertahankan Peringkat Kredit RI di BBB, BI: Bukti Kepercayaan Investor Menguat
Baca dalam 60 detik
- S&P Global Ratings mengonfirmasi peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil, menandakan kepercayaan investor global terhadap ekonomi Tanah Air.
- Arus modal asing ke SBN dan SRBI mencapai Rp105 triliun dalam sebulan terakhir, didorong oleh persepsi positif terhadap koordinasi kebijakan fiskal-moneter.
- Bank Indonesia melihat ruang penguatan rupiah masih terbuka lebar seiring membaiknya sentimen investor terhadap prospek ekonomi nasional.

Keputusan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan prospek stabil menjadi sinyal kuat bahwa kepercayaan investor global terhadap perekonomian nasional terus menguat. Bank Indonesia (BI) menilai langkah lembaga pemeringkat internasional itu merupakan cerminan dari keberhasilan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang solid di tengah ketidakpastian global.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan bahwa hasil penilaian S&P tersebut tidak lepas dari konsistensi pemerintah dan bank sentral dalam menjaga stabilitas ekonomi. โIni menunjukkan confidence global investor yang baik terhadap pengelolaan ekonomi Indonesia serta sinergi kebijakan yang terjaga,โ ujarnya saat dihubungi, Senin (13/7/2026). Menurut Destry, pengakuan dari lembaga pemeringkat sekelas S&P menjadi modal penting bagi Indonesia untuk terus menarik investasi asing.
Keyakinan investor yang semakin kokoh itu sudah terlihat dari derasnya aliran dana asing yang masuk ke pasar keuangan domestik. BI mencatat, selama Juni hingga pekan pertama Juli 2026, arus modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp31 triliun, sementara ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menembus Rp74 triliun. Secara total, nilai yang mengalir mencapai US$5,8 miliar atau setara Rp105 triliun. Angka ini menjadi bukti bahwa instrumen investasi Indonesia masih diminati di tengah gejolak ekonomi global.
Bagi investor Indonesia, kabar ini memberikan angin segar di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang sempat fluktuatif. Destry menegaskan bahwa BI akan terus berkomitmen menjaga stabilitas rupiah agar iklim investasi tetap kondusif. โKami melihat ruang penguatan rupiah masih cukup besar, terutama dengan membaiknya kepercayaan investor terhadap perekonomian kita,โ tegasnya. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa bank sentral optimistis terhadap prospek nilai tukar ke depan, didukung oleh fundamental ekonomi yang solid.
Keputusan S&P mempertahankan peringkat kredit Indonesia juga menjadi pembeda di kawasan Asia Tenggara. Di saat beberapa negara tetangga menghadapi tekanan perlambatan ekonomi, Indonesia justru berhasil mempertahankan rating investment grade. Hal ini memperkuat posisi tawar Indonesia dalam menarik investasi langsung maupun portofolio. Ke depan, BI bersama pemerintah diharapkan terus menjaga momentum ini dengan memperkuat reformasi struktural dan menjaga disiplin fiskal.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah: mampukah Indonesia memanfaatkan kepercayaan ini untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan? Dengan ruang penguatan rupiah yang masih terbuka dan aliran modal yang terus mengalir, peluang itu tampaknya ada di depan mata.



