Separuh Kasus Demensia Bisa Dicegah, tapi Kampanye Kesehatan Masih Gagal Ubah Perilaku
Baca dalam 60 detik
- Hampir 50% kasus demensia global terkait faktor risiko yang dapat dimodifikasi, namun kampanye kesehatan publik hanya berdampak kecil pada perubahan perilaku.
- Pendekatan interaktif dan personal, seperti asesmen risiko individu dan edukasi terstruktur, terbukti lebih efektif mendorong gaya hidup sehat.
- Di Indonesia, minimnya program pencegahan demensia yang terintegrasi dan kesadaran masyarakat menjadi tantangan utama dalam menekan angka kasus di masa depan.

Lebih dari separuh kasus demensia di dunia sebenarnya bisa dicegah atau ditunda, namun upaya kesehatan publik selama ini dinilai belum cukup ampuh mendorong perubahan perilaku yang berarti. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal The Lancet Healthy Longevity mengungkapkan bahwa meskipun hampir 50% dari seluruh kasus demensia terkait dengan faktor risiko yang dapat dimodifikasi, kampanye kesadaran massal hanya menghasilkan peningkatan pengetahuan yang kecil dan perubahan perilaku yang terbatas.
Penelitian yang dipimpin oleh Mario Siervo, profesor nutrisi manusia dari Curtin University Australia, menganalisis data dari program dan kampanye kesehatan masyarakat di delapan negara, termasuk Amerika Serikat, Australia, Belgia, China, dan Denmark. Program-program tersebut mencakup kampanye media massa, intervensi edukatif, asesmen risiko personal, kursus daring, hingga pendekatan berbasis komunitas. Hasilnya, kampanye berskala besar memang mampu menjangkau audiens luas, tetapi dampaknya terhadap perubahan gaya hidup masih minim.
“Kampanye ini secara umum berhasil meningkatkan kesadaran, dan pada sebagian orang juga memengaruhi perilaku. Efeknya mungkin kecil per individu, tetapi karena menjangkau jutaan orang, perubahan kecil itu bisa berarti bagi kesehatan masyarakat secara keseluruhan,” ujar Siervo. Namun, ia menekankan bahwa pendekatan yang lebih interaktif terbukti lebih konsisten dalam memotivasi perubahan dibandingkan kampanye pasif yang hanya memberikan informasi.
Data kunci dari studi ini menunjukkan bahwa kombinasi asesmen risiko personal dengan edukasi terstruktur mampu memperbaiki status faktor risiko yang dapat dimodifikasi hingga 26% dalam kurun waktu tiga tahun. Temuan ini mengindikasikan bahwa masyarakat perlu dilibatkan secara aktif, bukan sekadar diberi tahu. “Orang berubah ketika mereka terlibat aktif, bukan sekadar diberi informasi,” tegas Siervo.
Kesenjangan antara pengetahuan dan tindakan juga diamati oleh para klinisi. Dung Trinh, internis dari MemorialCare Medical Group dan kepala medis Healthy Brain Clinic di California, mengatakan bahwa banyak pasien masih percaya demensia semata-mata genetik atau konsekuensi penuaan yang tak terhindarkan. “Padahal, sebagian besar risiko demensia terkait dengan faktor yang bisa kita identifikasi dan atasi lebih awal,” jelasnya. Jonathan Rosand, profesor neurologi dari Harvard Medical School, menambahkan bahwa survei internalnya menunjukkan 95% orang Amerika tahu faktor risiko demensia, tetapi hanya 33% yang benar-benar menerapkan gaya hidup sehat. “Memberi tahu orang apa yang berisiko tidak sama dengan bermitra dengan mereka untuk berubah,” ujarnya.
Bagi Indonesia, temuan ini menjadi alarm tersendiri. Dengan populasi lanjut usia yang terus bertambah, angka demensia diproyeksikan melonjak. Sayangnya, program pencegahan demensia yang terintegrasi dan berbasis bukti masih terbatas. Manisha Parulekar, kepala Divisi Geriatri di Hackensack University Medical Center, menekankan perlunya pendekatan yang lebih personal dan interaktif, seperti program edukasi daring, asesmen risiko individual, dan program berbasis komunitas. “Akses terhadap intervensi gaya hidup juga sama pentingnya. Layanan ini harus tertanam dalam sistem kesehatan,” katanya.
Ke depan, riset perlu difokuskan pada efektivitas jangka panjang dan skalabilitas intervensi yang lebih personal dan berbasis komunitas, serta eksplorasi faktor risiko baru seperti kekuatan otot dan komposisi tubuh. Pertanyaan besarnya: mampukah Indonesia merancang kampanye pencegahan demensia yang tidak hanya meningkatkan kesadaran, tetapi juga benar-benar mengubah kebiasaan masyarakat?



