S&P Proyeksikan Rupiah ke Rp17.700 per Dolar, Lebih Lemah dari Target Pemerintah
Baca dalam 60 detik
- Lembaga pemeringkat S&P Global Ratings memperkirakan nilai tukar rupiah akan berada di level Rp17.700 per dolar AS pada 2026, lebih rendah dari posisi saat ini namun masih di atas target pemerintah.
- S&P mempertahankan peringkat kredit Indonesia di BBB dengan outlook stabil, menilai tekanan fiskal dan eksternal bersifat sementara.
- Proyeksi ini memberikan sinyal bagi investor dan pelaku pasar bahwa risiko pelemahan rupiah masih perlu diantisipasi, meski fundamental ekonomi dinilai tidak memburuk secara permanen.

Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akan mencapai Rp17.700 per dolar AS pada 2026, lebih rendah dibandingkan posisi saat ini yang berada di Rp18.100 per dolar AS, namun masih lebih lemah dari target pemerintah yang berkisar Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar AS.
Proyeksi tersebut dirilis bersamaan dengan keputusan S&P untuk mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk utang jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek, dengan outlook tetap stabil. Dalam laporan yang diterbitkan pada 13 Juli 2026, S&P menilai bahwa tekanan yang dialami perekonomian Indonesia, baik dari sisi fiskal maupun eksternal, bersifat sementara dan diperkirakan akan membaik dalam beberapa tahun mendatang.
Menurut S&P, pelemahan rupiah dan tekanan pada indikator ekonomi dipicu oleh tingginya harga energi global, kenaikan suku bunga acuan di negara maju, meningkatnya ketidakpastian kebijakan, serta akumulasi utang. Meski demikian, lembaga pemeringkat tersebut menilai faktor-faktor tersebut tidak bersifat permanen dan prospek perbaikan masih terbuka lebar.
Bagi pelaku pasar di Indonesia, proyeksi ini memberikan gambaran bahwa tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda, meskipun ada harapan perbaikan. Investor yang memegang aset dalam dolar AS perlu mencermati bahwa pelemahan rupiah masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek, namun stabilitas peringkat kredit memberikan sedikit ruang bernapas bagi pasar obligasi dan investasi asing.
โKami menegaskan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek. Outlook peringkat jangka panjang tetap stabil,โ demikian pernyataan resmi S&P dalam laporannya.
Dari sisi domestik, proyeksi ini menjadi pengingat bagi pemerintah dan Bank Indonesia untuk terus menjaga kredibilitas kebijakan fiskal dan moneter. Selisih antara proyeksi S&P dan target pemerintah menunjukkan bahwa tantangan eksternal masih signifikan, dan diperlukan langkah-langkah struktural untuk memperkuat fundamental ekonomi.
Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan harga komoditas, kebijakan suku bunga global, serta konsistensi reformasi di dalam negeri. Apakah tekanan terhadap rupiah akan benar-benar mereda pada 2026, atau justru kembali melemah seiring ketidakpastian global yang masih tinggi?



