S&P Peringatkan Risiko Perlambatan: Ekonomi RI Diprediksi Tumbuh 5,1% di 2026
Baca dalam 60 detik
- S&P Global Ratings memproyeksikan produk domestik bruto Indonesia hanya tumbuh 5,1% pada 2026, di bawah asumsi pemerintah.
- Ketidakpastian global dan suku bunga domestik yang tinggi menjadi faktor utama penahan laju ekonomi.
- Lembaga pemeringkat itu mengingatkan bahwa perubahan kebijakan yang tidak dikelola dengan baik bisa menggerus kepercayaan investor.

Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 hanya mencapai 5,1%, lebih rendah dari target pemerintah yang optimistis. Dalam laporan yang dirilis pertengahan Juli, S&P menyebutkan bahwa kinerja ekonomi nasional berpotensi melambat pada kuartal-kuartal mendatang akibat tekanan eksternal yang masih kuat dan suku bunga domestik yang tetap tinggi.
Proyeksi ini menjadi sinyal waspada bagi para pelaku pasar dan investor. Pasalnya, angka tersebut berada di bawah asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang menargetkan pertumbuhan di kisaran 5,3% hingga 5,6%. S&P juga memproyeksikan rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam periode 2026โ2029 hanya sebesar 4,9% per tahun, menunjukkan bahwa potensi ekspansi jangka panjang masih dibayangi ketidakpastian.
Menurut S&P, salah satu risiko yang patut dicermati adalah perubahan kebijakan pemerintah yang kerap terjadi. Dalam laporan tersebut, lembaga pemeringkat asal Amerika Serikat itu menilai bahwa sentimen pasar telah terpengaruh oleh serangkaian perubahan aturan, terutama di sektor investasi dan sumber daya alam. โJika tidak dikelola dengan baik, perubahan ini dapat berdampak lebih lama pada sentimen investasi dan pertumbuhan ekonomi,โ tulis S&P.
Meski demikian, S&P mengakui bahwa pemerintah Indonesia telah menunjukkan fleksibilitas dalam merespons umpan balik negatif dari industri. Langkah-langkah penyesuaian kebijakan dinilai cukup responsif, meskipun masih perlu diuji konsistensinya ke depan. Bagi investor asing, sinyal ini menjadi penting karena Indonesia tetap menjadi salah satu tujuan investasi utama di Asia Tenggara.
Bagi pembaca di Indonesia, proyeksi ini mengingatkan bahwa momentum pertumbuhan pasca-pandemi belum sepenuhnya pulih. Suku bunga acuan yang masih tinggi, meskipun mulai melandai, menekan konsumsi dan investasi domestik. Sementara itu, ketidakpastian globalโseperti perlambatan ekonomi Tiongkok dan dinamika suku bunga Federal Reserveโterus membayangi prospek ekspor dan aliran modal.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah pemerintah mampu menjaga kredibilitas kebijakan di tengah tekanan eksternal. S&P memberi catatan bahwa fleksibilitas yang ditunjukkan harus diimbangi dengan konsistensi agar kepercayaan investor tidak tergerus. Jika tidak, target pertumbuhan jangka menengah bisa semakin sulit tercapai.



