S&P Pertahankan Peringkat Utang RI di BBB, Kemenkeu: Bukti Kepercayaan Global
Baca dalam 60 detik
- S&P Global Ratings mengonfirmasi peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil, menilai tekanan fiskal dan eksternal bersifat sementara.
- Kemenkeu menyebut keputusan ini sebagai sinyal kepercayaan investor internasional terhadap disiplin fiskal dan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah gejolak global.
- Meski ada tantangan dari harga energi, suku bunga tinggi, dan pelemahan rupiah, S&P optimistis fundamental Indonesia akan membaik dalam beberapa tahun ke depan.

Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk utang jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek, dengan prospek stabil. Keputusan ini diumumkan pada 13 Juli 2026 dan langsung disambut positif oleh Kementerian Keuangan sebagai bukti kepercayaan komunitas global terhadap pengelolaan fiskal Indonesia.
Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kemenkeu, Herman Saheruddin, menegaskan bahwa outlook stabil ini mencerminkan dua hal utama. Pertama, masyarakat internasional yakin Indonesia mampu menjaga disiplin fiskal di tengah tekanan global. Kedua, Indonesia dinilai masih memiliki cerita pertumbuhan (growth story) yang meyakinkan, sehingga tetap resilien meskipun menghadapi gejolak ekonomi dunia.
"Prinsipnya menunjukkan masyarakat internasional percaya kita jaga disiplin fiskal. Kedua, masyarakat internasional masih percaya Indonesia punya growth story yang convince di tengah gejolak ini kita masih resilience," ujar Herman saat ditemui di Gedung Parlemen, Jakarta, Senin (13/7/2026).
Dalam laporannya, S&P mengakui bahwa posisi fiskal dan eksternal Indonesia mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Faktor-faktor seperti tingginya harga energi, kenaikan suku bunga global, pelemahan nilai tukar rupiah, meningkatnya ketidakpastian kebijakan, serta akumulasi utang menjadi pemicu utama. Namun, lembaga pemeringkat tersebut menilai bahwa tekanan-tekanan ini bersifat sementara dan tidak mengancam fundamental ekonomi jangka panjang Indonesia.
"Kami menegaskan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek. Outlook peringkat jangka panjang tetap stabil," tulis S&P dalam laporannya.
Keputusan S&P ini menjadi angin segar bagi pasar keuangan Indonesia, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Bagi investor, peringkat BBB dengan outlook stabil memberikan sinyal bahwa risiko kredit Indonesia masih terkendali, sehingga dapat mendorong masuknya modal asing ke pasar obligasi dan saham. Di sisi lain, pemerintah perlu terus menjaga kredibilitas kebijakan fiskal agar kepercayaan ini tidak pudar.
Ke depan, tantangan terbesar adalah bagaimana Indonesia mampu menavigasi dampak dari normalisasi kebijakan moneter di negara maju dan fluktuasi harga komoditas. S&P memperkirakan bahwa indikator ekonomi Indonesia akan membaik dalam beberapa tahun ke depan, namun hal itu sangat bergantung pada konsistensi reformasi struktural dan pengelolaan utang yang prudent. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah Indonesia mampu mempertahankan peringkat ini dan bahkan naik kelas di tengah dinamika global yang masih tidak menentu?



