Chivu Tantang Inter Tak Gentar Lawan Siapa pun, Siapkan Peran Baru untuk Diouf
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Inter Milan Cristian Chivu menyatakan timnya tidak takut menghadapi lawan mana pun di Serie A maupun Eropa, dengan ambisi mempertahankan gelar.
- Chivu berencana memainkan gelandang Andy Diouf sebagai bek sayap, sebuah ide yang disebutnya 'gila' untuk mengisi kekosongan setelah kepergian Denzel Dumfries.
- Inter tengah merombak skuad dengan melepas sejumlah pemain senior, namun Chivu optimistis kombinasi pemain muda dan berpengalaman bisa bersaing di semua kompetisi.

Cristian Chivu, pelatih Inter Milan yang baru saja menyelesaikan musim debutnya dengan meraih dua trofi, menegaskan bahwa timnya tidak gentar menghadapi lawan mana pun di Serie A maupun Eropa. Dalam konferensi pers menjelang dimulainya latihan pramusim di Appiano Gentile, Chivu bersama Presiden Beppe Marotta menyampaikan visi ambisius untuk musim baru.
Musim lalu, Inter sukses menyabet Scudetto dan Coppa Italia, sebuah pencapaian luar biasa bagi pelatih yang sebelumnya hanya menangani tim muda. Namun, Chivu menolak berpuas diri. โMotivasi adalah hal terpenting saat ini. Ambisi tidak pernah cukup. Kami tidak ingin berhenti di sini,โ ujarnya. Dengan 50 pertandingan sebagai pelatih kepala, ia mengaku masih memiliki banyak tanggung jawab dan keraguan, tetapi siap memberikan yang terbaik.
Inter tengah melakukan peremajaan skuad. Beberapa pemain veteran seperti Yann Sommer, Stefan de Vrij, Francesco Acerbi, dan Denzel Dumfries telah meninggalkan klub. Chivu mengakui kehilangan pemain yang telah menulis sejarah, namun ia yakin skuad saat ini tetap kompetitif berpadu antara pengalaman dan talenta muda. โKami ingin bermain dengan intensitas dan keberanian, tanpa mengeluh,โ tegasnya.
Berbeda dengan musim lalu ketika banyak pelatih menargetkan finis empat besar, Chivu sejak awal terang-terangan mengincar Scudetto. Kini sebagai juara bertahan, ia tetap memegang prinsip yang sama. โKami tidak takut siapa pun. Saya tidak perlu membuktikan apa pun kecuali kepada diri sendiri,โ katanya.
Meski dominan di dalam negeri, Inter gagal melaju jauh di Liga Champions, tersingkir di babak play-off. Chivu mengakui ada dua pertandingan yang salah, namun ia mengambil sisi positif. โKami kalah di detik-detik akhir melawan Atletico Madrid dan Liverpool. Saya bertanggung jawab atas kesalahan, tetapi secara keseluruhan kami bermain setara dengan semua lawan. Saya ingin tim lebih berani dan tidak berpuas diri,โ ujarnya.
Di bursa transfer, Chivu memberikan kabar terbaru soal Benjamin Pavard yang kembali setelah masa pinjaman yang kurang sukses di Olympique Marseille. โDia pemain kami. Kami akan melihatnya berlatih, lalu mengambil keputusan,โ kata Chivu. Sementara itu, upaya mencari pengganti Dumfries menemui kendala: Chelsea merebut Marco Palestra, dan Anan Khalaili gagal lolos tes medis.
Menghadapi situasi itu, Chivu mengungkapkan ide taktis yang ia sebut โgilaโ: memainkan gelandang Andy Diouf sebagai bek sayap. โDia memiliki keberanian untuk melewati lawan. Dalam beberapa pertandingan, seperti melawan Como, ia mengubah permainan dengan cara itu. Di beberapa laga ia akan bermain di lini tengah, tapi saya suka dia sebagai bek sayap karena memiliki karakteristik yang kami butuhkan,โ jelas Chivu.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, pendekatan Chivu ini menarik karena menunjukkan fleksibilitas taktik di level tertinggi. Inter, yang memiliki basis penggemar besar di Indonesia, akan menjadi sorotan musim ini. Jika ide Diouf sebagai wing-back berhasil, bisa menjadi inspirasi bagi pelatih lokal untuk berani bereksperimen dengan posisi pemain.
Musim baru Serie A akan segera bergulir. Inter akan menghadapi tantangan dari rival seperti Juventus, AC Milan, dan Napoli yang juga memperkuat skuad. Pertanyaannya, mampukah Chivu mempertahankan gelar dan sekaligus memperbaiki performa di Eropa? Atau akankah eksperimen taktisnya justru menjadi bumerang?



