Anak Priscilla Presley Bela Diri Usai Galang Dana untuk Bisnis Pizza
Baca dalam 60 detik
- Navarone Garibaldi Garcia mengumpulkan dana lewat GoFundMe untuk membeli oven pizza industri, menuai kritik karena dianggap mampu meminta bantuan ibunya, Priscilla Presley.
- Ia membantah tudingan dengan menyatakan memiliki tanggungan sendiri dan tidak ingin membebani ibunya untuk setiap ide bisnis yang muncul.
- Kisah ini menyoroti dilema wirausaha di era media sosial, di mana figur publik kerap dihakimi atas keputusan finansial mereka.

Navarone Garibaldi Garcia, putra Priscilla Presley, menjadi sasaran kritik setelah meluncurkan kampanye penggalangan dana untuk usaha pizza pribadinya. Ia menggunakan platform GoFundMe untuk mengumpulkan dana sebesar 5.500 dolar AS, namun banyak pihak mempertanyakan mengapa ia tidak meminta bantuan keuangan dari ibunya, mantan istri Elvis Presley yang dikenal memiliki harta melimpah.
Garcia, yang juga musisi, tidak tinggal diam. Melalui unggahan di Instagram, ia menulis dengan nada kesal bahwa ia harus menjelaskan berulang kali kepada orang-orang yang menganggap dirinya bisa meminta uang pada ibunya. โSaya juga punya banyak tagihan, anggaran, dan saya juga menyumbang untuk kegiatan amal. Saya tidak merekam dan mengunggahnya ke YouTube,โ tulisnya, menegaskan bahwa setiap kali ia memiliki ide, ia tidak bisa langsung mengeluarkan uang besar tanpa perencanaan.
Ia mengaku telah menyisihkan 3.000 dolar AS dari kantongnya sendiri untuk membeli oven pizza industri yang harganya berhasil dinegosiasikan dari 14.000 dolar AS menjadi 8.500 dolar AS. Kekurangan 5.500 dolar AS itulah yang ia harapkan dari donasi publik. Garcia juga menawarkan pizza gratis bagi para penyumbang sebagai bentuk apresiasi.
Dalam pernyataannya kepada TMZ, Garcia menjelaskan bahwa ibunya menyukai ide bisnis ini, namun ia enggan meminta uang untuk setiap gagasan yang muncul. โDia akan bangkrut dan saya juga,โ ujarnya, menggambarkan bahwa ketergantungan pada orang tua bukanlah solusi jangka panjang. Sikap ini justru mendapat dukungan dari sebagian warganet yang menilai ia mandiri dan realistis.
Fenomena ini menarik untuk dicermati, terutama di Indonesia di mana budaya kewirausahaan semakin digalakkan. Banyak anak muda yang memulai bisnis dengan modal terbatas dan memanfaatkan platform crowdfunding. Namun, kasus Garcia mengingatkan bahwa latar belakang keluarga tidak selalu menjadi jaminan kemudahan akses modal. Tekanan sosial untuk tampak sukses tanpa bantuan orang tua kerap menjadi beban tersendiri.
Ke depan, keberhasilan kampanye Garcia akan menjadi ujian apakah publik lebih menghargai kemandirian atau tetap skeptis terhadap figur publik yang meminta donasi. Pertanyaan yang muncul: akankah model pendanaan seperti ini menjadi tren baru di kalangan selebriti yang ingin membangun usaha tanpa campur tangan keluarga?



