Singapura Perluas Akses Hunian Senior: Usia Minimal Turun Jadi 55 Tahun, Biaya Layanan Dipangkas Hingga 75%
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Singapura menurunkan batas usia kelayakan Community Care Apartments dari 65 menjadi 55 tahun mulai Oktober 2026, memberi lebih banyak opsi bagi lansia yang ingin pindah ke hunian yang lebih sesuai.
- Biaya paket layanan dasar bulanan dipotong 18-75% setelah penyesuaian layanan, termasuk menghilangkan biaya ruang komunal mandiri dan menjadikan perangkat darurat opsional.
- Subsidi baru dari Kementerian Kesehatan akan menanggung sebagian biaya layanan, dengan skema means-testing, dan mulai berlaku pada kuartal kedua 2027.

Pemerintah Singapura secara resmi menurunkan batas usia minimal untuk menyewa Community Care Apartments (CCA) dari 65 tahun menjadi 55 tahun, sebuah langkah yang dinilai sebagai perluasan akses bagi warga senior yang ingin menempati hunian terpadu dengan layanan perawatan. Keputusan ini diumumkan bersama oleh Kementerian Kesehatan (MOH), Kementerian Pembangunan Nasional (MND), dan Badan Perumahan dan Pembangunan (HDB) pada Senin (13 Juli).
Sejak diperkenalkan pada 2021, CCA dirancang sebagai solusi hunian ramah lansia yang mengintegrasikan tempat tinggal dengan layanan perawatan, memungkinkan penghuni untuk menua secara mandiri di tengah komunitas. Hingga saat ini, HDB telah meluncurkan lima proyek CCA di Bukit Batok, Queenstown, Bedok, Geylang, dan Sengkang. Proyek keenam akan diluncurkan di Toa Payoh pada Oktober 2025, berdekatan dengan Stasiun MRT Caldecott.
Penurunan batas usia ini mulai berlaku pada penjualan Build-To-Order (BTO) Oktober 2026. Dengan demikian, warga yang berusia 55 tahun ke atas dapat mempertimbangkan CCA maupun flat dua ruang Flexi dengan sewa pendek sebagai opsi untuk menyesuaikan ukuran hunian mereka. โIni memberi mereka lebih banyak pilihan perumahan dan waktu lebih lama untuk merencanakan masa depan,โ demikian pernyataan bersama MOH, MND, dan HDB. Ketentuan baru ini juga berlaku untuk CCA yang tersedia dalam penjualan sisa flat di masa mendatang.
Selain perubahan usia, pemerintah juga memangkas biaya Paket Layanan Dasar (BSP) bulanan secara signifikan. Pemangkasan ini merupakan hasil penyederhanaan layanan yang disesuaikan dengan masukan para penghuni. Biaya untuk kegiatan sosial kini akan dikonsolidasikan melalui pusat Active Ageing Centre (AAC) di sekitar CCA, sehingga tidak perlu lagi menyediakan ruang komunal mandiri. โBiaya pemrograman sosial dan pemeliharaan ruang komunal mandiri akan dihapus dari biaya BSP,โ jelas pernyataan tersebut. Dengan demikian, sebagian besar kegiatan sosial akan disubsidi dan gratis bagi penghuni.
Perangkat peringatan darurat yang sebelumnya wajib disertakan dalam BSP kini menjadi opsional. Penghuni yang memilih tidak menggunakan perangkat tersebut tetap dapat mengakses dukungan darurat 24 jam melalui staf CCA. Langkah ini memberikan fleksibilitas bagi penghuni untuk menekan biaya sesuai kebutuhan. Untuk menekan biaya lebih lanjut, Kementerian Kesehatan akan memberikan subsidi untuk komponen layanan yang serupa dengan skema Perawatan Jangka Panjang (LTC) nasional, termasuk dukungan staf CCA dan respons darurat 24/7. Subsidi ini akan diterapkan dengan means-testing, dan penghuni yang dinilai tidak mampu melakukan setidaknya satu aktivitas harian berhak mendapatkannya.
Bagi CCA yang diluncurkan sebelum 2026, biaya BSP bulanan akan turun antara 18% hingga 75% setelah penyederhanaan dan subsidi. Sementara itu, CCA yang diluncurkan tahun ini dan seterusnya akan menikmati biaya BSP yang lebih rendah dengan cakupan layanan paling sederhana. Pemerintah berjanji akan meninjau biaya BSP secara berkala untuk menyesuaikan dengan kebutuhan perawatan lansia, inflasi, dan perubahan biaya operasional. Operator CCA, Vanguard Healthcare, akan menghubungi penghuni untuk memberikan rincian lebih lanjut. Revisi biaya dan subsidi baru dijadwalkan mulai diterapkan pada kuartal kedua 2027.
Langkah Singapura ini menjadi sorotan bagi Indonesia, yang juga tengah bergelut dengan populasi lansia yang terus bertambah. Di Indonesia, konsep hunian terpadu dengan layanan perawatan masih terbatas pada rumah sakit dan panti werdha swasta dengan biaya tinggi. Kebijakan Singapura yang menurunkan batas usia dan memangkas biaya layanan dapat menjadi referensi bagi pemerintah Indonesia dalam merancang program perumahan ramah lansia yang terjangkau. Apakah Indonesia akan mengadopsi model serupa untuk mengantisipasi bonus demografi yang menua?



