Tom Holland Bela Penggunaan Kata 'Dad' di The Odyssey: Itu Lebih Manusiawi
Baca dalam 60 detik
- Tom Holland dan Christopher Nolan membela pilihan bahasa modern dalam film The Odyssey, menyebut kritik sebagai prasangka budaya.
- Nolan menegaskan bahwa adaptasi klasik harus terasa segar bagi penonton masa kini, bukan sekadar penghormatan kaku pada teks asli.
- Film ini menggunakan aksen Amerika dan diksi kontemporer, memicu perdebatan tentang kesetiaan pada sumber sejarah.

Tom Holland, pemeran Telemachus dalam adaptasi terbaru The Odyssey garapan Christopher Nolan, angkat bicara membela penggunaan kata "dad" yang dianggap terlalu modern oleh sebagian kritikus. Menurutnya, argumen soal ketidaksesuaian bahasa itu lemah karena tokoh dalam epos Yunani kuno pun tidak benar-benar berbahasa Inggris.
Dalam wawancara dengan Channel 4 News, aktor 30 tahun itu menjelaskan bahwa jika mengikuti logika historis, karakter-karakternya seharusnya berbicara dalam bahasa Yunani Kuno, bukan Inggris formal. "Jadi, kata 'father' pun sebenarnya tidak lebih tepat dari 'dad'," ujarnya. Pernyataan ini langsung mendapat dukungan dari Nolan yang ikut dalam sesi wawancara.
Sutradara ternama itu menilai bahwa banyak kritik terhadap adaptasi klasik justru lahir dari prasangka budaya, bukan dari analisis objektif. "Orang cenderung mengagung-agungkan sesuatu karena usianya, padahal puisi Homer sendiri sangat membumi dan mudah diakses," kata Nolan. Ia menegaskan bahwa tujuannya adalah membuat film yang terasa segar bagi penonton modern, bukan sekadar replika kaku dari teks asli.
Kontroversi bahasa ini bukan satu-satunya yang dihadapi film yang dibintangi Matt Damon sebagai Odysseus itu. Penggunaan aksen Amerika dalam latar abad ke-12 SM juga menuai kritik. Namun, Nolan dengan tegas mengabaikan kegaduhan pra-rilis. "Semua perdebatan sebelum orang menonton film itu tidak relevan karena belum ada yang tahu wujud akhirnya," ujarnya kepada The Telegraph.
Nolan menarik paralel dengan pengalamannya menggarap trilogi Batman. Ia mengaku belajar bahwa kekhawatiran terhadap ekspektasi penggemar hanya akan menghambat kreativitas. "Yang harus dilakukan adalah menghormati teks asli dengan menafsirkannya sekuat mungkin sesuai visi pribadi," katanya. Ia menambahkan bahwa penggemar pada akhirnya menghargai ketulusan upaya adaptasi, meski berbeda dari bayangan mereka.
Bagi penonton Indonesia, perdebatan ini mengingatkan pada diskusi serupa dalam adaptasi karya sastra klasik Nusantara ke layar lebar. Film seperti "Roro Jonggrang" atau "Ken Arok" kerap menghadapi pertanyaan tentang kesetiaan pada versi asli versus kebutuhan penceritaan modern. Nolan seolah menawarkan jalan tengah: interpretasi yang jujur dan segar, tanpa terjebak pada romantisme masa lalu.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah pendekatan Nolan berhasil memikat penonton global, atau justru memicu perdebatan lebih panjang tentang batas adaptasi? Jawabannya baru akan terlihat saat The Odyssey tayang di bioskop pada 2026.



