Nansun Shi, Produser Legendaris Hong Kong yang Melahirkan 'Infernal Affairs', Tutup Usia
Baca dalam 60 detik
- Nansun Shi, produser di balik film-film ikonik seperti 'A Better Tomorrow' dan 'Infernal Affairs', meninggal pada 13 Juli 2026 di usia 75 tahun akibat komplikasi kesehatan.
- Bersama mantan suaminya, sutradara Tsui Hark, ia mendirikan Film Workshop pada 1984 dan menjadi salah satu figur paling berpengaruh di industri film Asia.
- Kepergiannya meninggalkan jejak besar di perfilman Hong Kong, dengan warisan karya yang terus menginspirasi sineas global, termasuk di Indonesia.

Dunia perfilman Asia kehilangan salah satu tokoh paling produktif. Nansun Shi, produser film Hong Kong yang namanya melekat pada sederet mahakarya seperti Infernal Affairs dan A Chinese Ghost Story, mengembuskan napas terakhir pada 13 Juli 2026 di Hong Kong Sanatorium & Hospital. Ia berusia 75 tahun.
Kabar duka ini disampaikan oleh Film Workshop, rumah produksi yang ia dirikan bersama mantan suaminya, sutradara kenamaan Tsui Hark, melalui pernyataan resmi pada malam harinya. Dalam pernyataan tersebut, disebutkan bahwa kesehatan Shi telah menurun sejak 2022 akibat gangguan sistem imun. โDalam beberapa bulan terakhir, infeksi berulang menyebabkan disfungsi multi-organ. Ia dikelilingi keluarga dan orang-orang terkasih di saat-saat terakhirnya,โ tulis pernyataan itu dalam bahasa Mandarin dan Inggris. Rencana pemakaman akan diumumkan kemudian.
Nansun Shi bukan sekadar produser biasa. Sepanjang kariernya, ia bertanggung jawab melahirkan film-film yang menjadi tonggak sejarah sinema Hong Kong. Namanya terukir di A Better Tomorrow (1986โ1989) yang melambungkan Chow Yun Fat, trilogi A Chinese Ghost Story (1987โ1991) bersama Leslie Cheung dan Joey Wong, seri Once Upon a Time in China (1991โ1997) yang dibintangi Jet Li, serta Infernal Affairs (2002โ2003) yang kemudian diadaptasi Hollywood menjadi The Departed.
Kisah masuknya Shi ke industri film terbilang unik. Dalam wawancara dengan The Straits Times pada 2014, ia mengaku terjun ke dunia produksi secara tidak sengaja. Setelah sukses sebagai eksekutif komunikasi dan pemrogram televisi, ia mulai bergaul dengan sineas seperti Dean Shek, Raymond Wong, dan Eric Tsang. Meski awalnya menolak tawaran bergabung dengan Cinema City, mereka nekat mentransfer uang ke rekeningnya. โSaya menelepon Raymond dan bertanya, โIni untuk apa?โ Dia menjawab, โOh, kami membayarmu. Kalau sudah siap, datanglah bekerja.โ Keesokan harinya, saya masuk kerja,โ kenang Shi. Keputusan itu mengubah hidupnya dan membuatnya bertahan selama tiga dekade.
Shi bertemu Tsui Hark di Commercial Television pada 1970-an. Kedekatan mereka tumbuh karena saling mengagumi bakat masing-masing. Pada 1984, mereka mendirikan Film Workshop dengan pembagian peran yang jelas: Shi mengurusi produksi, anggaran, dan casting, sementara Tsui fokus pada penulisan naskah dan penyutradaraan. Mereka menikah di Amerika Serikat pada 1996 dan dijuluki sebagai pasangan paling kuat di industri film Hong Kong. Namun, pada 2014, Shi mengakui bahwa pernikahan mereka telah berakhir. Meski bercerai, keduanya tetap bekerja sama hingga akhir hayat Shi.
Penampilan publik terakhir Shi adalah pada Mei 2026 saat menghadiri pemakaman sahabatnya, produser Linda Kuk. Ia terlihat berjalan dengan bantuan tongkat. Sepekan sebelum meninggal, media Hong Kong melaporkan bahwa aktris Taiwan Sylvia Chang menjenguknya di rumah sakit pada 6 Juli. Dua hari berikutnya, tokoh radio Hong Kong Winnie Yu dan aktris pensiunan Taiwan Brigitte Lin Ching-hsia juga terlihat menjenguk.
Kepergian Nansun Shi meninggalkan duka mendalam bagi industri film Asia. Warisannya berupa film-film yang tak lekang oleh waktu akan terus dikenang. Bagi sineas Indonesia, jejak Shi menjadi inspirasi bahwa produser bisa menjadi tulang punggung kreativitas. Pertanyaannya, siapakah yang akan meneruskan estafet keunggulan produksi film Asia setelah kepergiannya?



