Simpanan Masyarakat Rp10.329 Triliun: Rekening Kecil Membludak, Dana Besar Mendominasi
Baca dalam 60 detik
- Hingga Mei 2026, total simpanan perbankan nasional menembus Rp10.329 triliun, dengan pertumbuhan tahunan 13,4%.
- Rekening di bawah Rp100 juta mencakup 98,9% total rekening, namun nilai simpanannya hanya tumbuh 4,9% secara tahunan.
- Sebaliknya, 0,02% rekening dengan saldo di atas Rp5 miliar menguasai 58,3% total dana, tumbuh 21,4% yoy.

Pertumbuhan simpanan masyarakat di perbankan nasional menunjukkan jurang yang semakin lebar antara kelompok mayoritas nasabah kecil dan segelintir pemilik dana raksasa. Data terbaru Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per Mei 2026 mengungkapkan bahwa meskipun jumlah rekening dengan saldo di bawah Rp100 juta melonjak pesat, nilai simpanan mereka hanya bertambah tipis. Sebaliknya, rekening jumbo di atas Rp5 miliar—yang jumlahnya sangat sedikit—justru menjadi motor utama pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK).
Secara keseluruhan, total simpanan masyarakat mencapai Rp10.329,93 triliun, tumbuh 13,4% secara tahunan. Angka ini mencerminkan likuiditas yang masih melimpah di sistem perbankan, namun distribusinya sangat timpang. Simpanan kelompok di atas Rp5 miliar mencapai Rp6.026,75 triliun, naik 21,4% yoy, sementara jumlah rekeningnya hanya 155.438 unit atau 0,02% dari total rekening. Artinya, setiap rekening jumbo rata-rata menyimpan dana sekitar Rp38,8 miliar.
Di kutub lain, rekening dengan saldo di bawah Rp100 juta—yang mencapai 674,6 juta rekening atau 98,9% dari total—hanya mengumpulkan Rp1.143,26 triliun, tumbuh 4,9% yoy. Pertumbuhan jumlah rekening kelompok ini mencapai 8,9% yoy, jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok jumbo yang hanya 7,2%. Namun, pertambahan jumlah rekening tidak sebanding dengan akumulasi nilainya, mengindikasikan bahwa mayoritas nasabah baru menabung dalam jumlah kecil atau bahkan tidak aktif.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan kenaikan upah belum merata ke seluruh lapisan masyarakat. Sementara kelompok mampu terus mengakumulasi kekayaan, kelompok menengah ke bawah masih bergulat dengan daya beli yang tertekan. Kepala Ekonom sebuah bank BUMN menilai bahwa pola ini konsisten dengan tren konsumsi rumah tangga yang lesu di segmen mass market, di mana tabungan lebih banyak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari ketimbang ditabung dalam jumlah besar.
Dari sisi jenis bank, simpanan di bank dengan modal inti kelompok (KBMI) 2 tumbuh paling tinggi, yakni 20,9% yoy, disusul KBMI 4 sebesar 16,4% yoy. KBMI 3 dan KBMI 1 masing-masing tumbuh 7,6% dan 6,8%. Namun dari pangsa pasar, KBMI 4—yang mencakup bank-bank besar seperti Mandiri, BCA, BRI, dan BNI—masih mendominasi dengan kontribusi 53,7% terhadap total DPK. Ini menegaskan bahwa nasabah kaya cenderung memilih bank besar dengan layanan prioritas dan produk investasi yang lebih variatif.
Bagi industri perbankan, data ini menjadi sinyal untuk merancang strategi penghimpunan dana yang lebih inklusif. Pertumbuhan rekening kecil yang tinggi membuka peluang untuk memperluas basis nasabah melalui layanan digital dan produk mikro. Namun, tanpa peningkatan pendapatan riil masyarakat, dana-dana kecil itu mungkin tidak akan pernah bertransformasi menjadi simpanan yang signifikan. Pertanyaan selanjutnya adalah: akankah bank sentral dan pemerintah mendorong kebijakan yang mempercepat redistribusi pendapatan, atau justru semakin memperkuat konsentrasi dana di segelintir rekening superkaya?



