Belasan Tewas di Pantura Indramayu: Sopir Pikap Diduga Gegabah Putar Balik
Baca dalam 60 detik
- Kecelakaan beruntun di Jalur Pantura Indramayu melibatkan pikap dan dua truk, menewaskan 12 orang dan melukai belasan lainnya.
- Pikap yang membawa 17 penumpang usai pesta pernikahan diduga memutar arah secara mendadak, menyebabkan tabrakan beruntun.
- Polisi menggunakan metode Traffic Analysis Accident untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan, sementara korban luka mayoritas anak-anak.

Kecelakaan maut di Jalur Pantura Indramayu, Jawa Barat, Minggu (12/7) siang, merenggut nyawa 12 orang dan melukai belasan lainnya. Insiden yang melibatkan sebuah mobil pikap dan dua truk besar ini terjadi di Desa Kiajaran Kulon, Kecamatan Lohbener, dan menjadi peringatan keras akan bahaya manuver sembarangan di jalan raya.
Berdasarkan data yang dihimpun hingga Senin (13/7) pagi, tiga orang meninggal di tempat kejadian, sementara sembilan lainnya menghembuskan napas terakhir saat menjalani perawatan di RS Bhayangkara Losarang dan RS Mitra Plumbon Widasari. Korban jiwa berasal dari beberapa desa di Indramayu, mulai dari balita hingga lansia, dengan usia termuda 3 tahun dan tertua 60 tahun.
Kasat Lantas Polres Indramayu, AKP Undang Syarif, menjelaskan bahwa kecelakaan berawal saat mobil pikap yang membawa 17 penumpang—usai menghadiri resepsi pernikahan—berniat memutar arah di tengah jalan. Saat bermanuver, kendaraan tersebut ditabrak dari belakang oleh sebuah wing box, lalu terdorong ke depan dan dihantam truk Hino yang datang dari arah berlawanan. Benturan keras menyebabkan pikap ringsek dan para penumpang terlempar.
Kecelakaan ini kembali menyoroti tingginya angka kecelakaan di Jalur Pantura, yang dikenal padat dan rawan karena banyaknya kendaraan berat serta minimnya rambu lalu lintas. Manuver putar balik di lokasi tanpa marka atau lampu pengatur lalu lintas kerap menjadi pemicu kecelakaan fatal. Selain itu, penggunaan mobil bak terbuka untuk mengangkut penumpang dalam jumlah banyak juga melanggar aturan keselamatan.
Polisi saat ini tengah melakukan olah tempat kejadian perkara menggunakan metode Traffic Analysis Accident (TAA) untuk merekonstruksi kronologi dan menentukan penyebab pasti. Hasil analisis diharapkan dapat menjadi dasar evaluasi keselamatan di ruas jalan tersebut. Sementara itu, para korban luka—yang sebagian besar anak-anak—masih menjalani perawatan intensif di RS Mitra Plumbon.
Kejadian ini menimbulkan pertanyaan: akankah penegakan hukum terhadap pelanggaran lalu lintas di Pantura diperketat, ataukah tragedi serupa akan terus berulang karena lemahnya pengawasan dan infrastruktur?



