Rupiah Terpuruk ke Rp18.075 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah dan Harga Minyak Jadi Biang Kerok
Baca dalam 60 detik
- Rupiah dibuka melemah 0,17% ke Rp18.075 per dolar AS pada Senin (13/7/2026), dipicu penguatan indeks dolar dan eskalasi konflik Iran-AS.
- Konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak Brent naik 3,3% ke US$78,49 per barel, memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dua kali tahun ini.
- Ekonom Bank BTN menilai rupiah baru bisa kembali ke bawah Rp18.000 jika tekanan global mereda, perang berakhir, dan harga minyak turun di bawah US$70 per barel.

Rupiah kembali terperosok ke level terlemahnya dalam beberapa pekan terakhir, dibuka di posisi Rp18.075 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (13/7/2026), terdepresiasi 0,17% dibandingkan penutupan akhir pekan lalu di Rp18.045. Pelemahan ini terjadi di tengah menguatnya indeks dolar AS (DXY) yang naik 0,22% ke 101,178, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu aksi buru aset safe haven.
Eskalasi konflik antara AS dan Iran menjadi katalis utama pergerakan pasar pagi ini. Pada akhir pekan, Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke fasilitas AS di sejumlah negara Teluk, serta kembali mengancam menutup Selat Hormuzโjalur vital bagi perdagangan energi global. Langkah ini langsung mendongkrak harga minyak mentah Brent sebesar 3,3% ke level US$78,49 per barel, memicu kekhawatiran inflasi global yang lebih tinggi.
Bagi pasar keuangan Indonesia, kenaikan harga minyak menjadi sinyal negatif ganda. Pertama, Indonesia sebagai importir minyak netto akan terbebani biaya impor energi yang lebih besar, memperlebar defisit transaksi berjalan. Kedua, inflasi global yang kembali meningkat memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), akan menaikkan suku bunga dua kali lagi hingga akhir tahun. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan dua kali atau lebih pada rapat Desember naik dari 47,6% pada Jumat lalu menjadi 52,1% pagi ini.
Kombinasi tekanan eksternal ini membuat ruang penguatan rupiah semakin sempit. Pelaku pasar global cenderung menghindari aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia, dan beralih ke dolar AS. Kondisi ini diperparah oleh kekhawatiran bahwa inflasi yang tinggi akan memaksa The Fed mempertahankan sikap hawkish lebih lama, sehingga selisih suku bunga antara Indonesia dan AS tetap lebar.
Ekonom Bank BTN, Myrdal Gunarto, menilai bahwa untuk kembali ke bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS, diperlukan kombinasi kondisi yang ideal. "Kalau mau balik di bawah Rp18.000 syaratnya tekanan global mereda, perang beneran selesai, harga minyak juga turun di bawah 70 dolar per barel, dan pandangan investor global terhadap Indonesia juga balik normal lagi," ujarnya. Menurut Myrdal, jika semua syarat itu terpenuhi, investor asing diperkirakan akan kembali masuk dan mendorong rupiah menguat ke kisaran Rp17.600 per dolar AS.
"Nah kalau itu udah terjadi ya saya rasa sih investor akan balik dan bikin rupiah kembali menguat ke level di bawah Rp18.000. Karena proyeksi kita di level sekitar Rp17.600," tegas Myrdal.
Pertanyaannya, seberapa realistis skenario tersebut dalam waktu dekat? Konflik Iran-AS belum menunjukkan tanda-tanda mereda, dan harga minyak masih berpotensi naik lebih tinggi jika Selat Hormuz benar-benar ditutup. Bagi investor dan pelaku bisnis di Indonesia, volatilitas rupiah ini menjadi pengingat akan kerentanan ekonomi domestik terhadap guncangan eksternal. Bank Indonesia diperkirakan akan terus melakukan intervensi di pasar valas untuk menahan laju pelemahan, namun efektivitasnya sangat tergantung pada dinamika global ke depan.



