Xiaohongshu: Dari Aplikasi Gaya Hidup Menjadi Mesin Pariwisata China
Baca dalam 60 detik
- Xiaohongshu, aplikasi gaya hidup China dengan 350 juta pengguna aktif bulanan, mengubah peta pariwisata domestik dengan mendorong wisatawan ke destinasi non-konvensional.
- Platform yang bersiap melantai di bursa Hong Kong ini memicu overtourism dan ketergantungan bisnis pada lalu lintas digital, namun juga menghidupkan kembali kawasan terpencil seperti Zibo.
- Pengaruh Xiaohongshu mulai merambah komunitas Tionghoa di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, berpotensi menggeser pola perjalanan wisatawan Nusantara ke China.

Persaingan sengit antar fotografer profesional di kawasan wisata Beijing, terutama di danau indah Shichahai, menjadi cermin bagaimana Xiaohongshu—aplikasi gaya hidup terpopuler di China—telah merevolusi industri pariwisata negeri Tirai Bambu. Para wanita muda berjubah tradisional berpose untuk diunggah ke platform yang kini menjadi 'kitab suci' perjalanan bagi generasi Z dan milenial China.
Dikenal dengan nama RedNote di pasar global, Xiaohongshu memadukan fitur berbagi foto ala Instagram dengan fungsi perencanaan perjalanan. Aplikasi ini telah mengubah kebiasaan wisatawan: dari sekadar mengunjungi tempat terkenal menjadi berburu lokasi 'instagramable' yang viral di linimasa. Data dari platform analitik Qiangua menunjukkan pengguna aktif bulanan Xiaohongshu mencapai 350 juta pada Mei 2026, naik 50 juta dari tahun sebelumnya.
Fenomena ini tidak hanya menguntungkan fotografer jalanan seperti Li Geng yang harus bersaing dengan kreator konten berpuluh-puluh ribu pengikut, tetapi juga mengerek angka perjalanan domestik China ke rekor baru. Pada 2025, warga China melakukan lebih dari 6,5 miliar perjalanan, meningkat 16 persen dibanding tahun sebelumnya, menurut laporan Xinhua. Kota industri Zibo di Shandong menjadi contoh nyata: sate barbekyu murah yang viral di Xiaohongshu mampu menyedot jutaan wisatawan dalam waktu singkat.
Namun, di balik gemerlapnya, Xiaohongshu menyimpan sisi gelap. Ming Yii Lai, konsultan senior di Daxue Consulting, mengingatkan bahwa fenomena 'overtourism' mulai melanda spot-spot yang viral. Bisnis lokal pun menjadi sangat bergantung pada lalu lintas yang dihasilkan platform, sehingga rentan ketika tren bergeser. Keluhan juga muncul terhadap unggahan berbayar food blogger yang sering kali melebih-lebihkan kualitas tempat, menyebabkan kekecewaan di kalangan wisatawan.
Bagi pelancong seperti Mina Chen, mahasiswi 20 tahun dari Hunan, Xiaohongshu sudah menjadi kebutuhan primer. Ia merencanakan seluruh perjalanan ke Beijing berdasarkan rekomendasi pengguna lain, mulai dari rute 'citywalk' hingga tempat makan favorit. "Tidak peduli apa pun, saya cari saja di Xiaohongshu," ujar Meng Jiaxuan, pengunjung lain yang bahkan mencari pose foto di aplikasi tersebut.
Ekspansi Xiaohongshu tidak berhenti di perbatasan China. Komunitas Tionghoa di Malaysia dan Singapura mulai mengadopsi aplikasi ini untuk merencanakan perjalanan ke daratan utama. Ernest Phua, pensiunan asal Singapura, mengaku lebih percaya pada konten Xiaohongshu ketimbang YouTube karena dianggap lebih autentik menggambarkan kehidupan lokal. Bagi Indonesia, dengan jumlah diaspora Tionghoa yang besar dan minat tinggi terhadap wisata China, Xiaohongshu berpotensi menjadi pemain kunci dalam menentukan arus wisatawan Nusantara ke negeri Panda.
Di tengah persiapan IPO yang dikabarkan bisa terjadi pada akhir 2026, Xiaohongshu harus menyeimbangkan antara pertumbuhan pengguna dan keberlanjutan ekosistem pariwisata. Akankah aplikasi ini mampu menjaga kualitas konten di tengah tekanan komersialisasi? Atau justru akan menjadi korban dari kesuksesannya sendiri? Pertanyaan itu masih menggantung di udara, menunggu jawaban dari langkah strategis perusahaan selanjutnya.



