Jual Rambutan hingga Jaga Bank: Kisah Awal Karier Komedian Singapura Sebelum Tenar
Baca dalam 60 detik
- Empat komedian Singapura membocorkan pekerjaan paruh waktu pertama mereka, mulai dari mengajar piano hingga berjualan rambutan di lorong HDB.
- Mark Lee mengaku mulai berjualan rambutan sejak usia 5-6 tahun tanpa dibayar, sementara Gurmit Singh tidur di brankas bank saat menjaga gedung ayahnya.
- Kisah ini mengingatkan bahwa jalan menuju sukses sering dimulai dari pekerjaan sederhana yang membentuk karakter.

Sebelum menghibur jutaan pemirsa lewat layar kaca, empat komedian papan atas Singapura ternyata pernah menjalani pekerjaan paruh waktu yang jauh dari gemerlap panggung. Dalam sebuah episode terbaru kanal YouTube Comedian VS, Koh Chieng Mun, Suhaimi Yusof, Mark Lee, dan Gurmit Singh berbagi cerita tentang pekerjaan pertama mereka—dari mengajar piano di usia 14 tahun hingga berjualan rambutan di lorong perumahan HDB.
Koh Chieng Mun, aktris Under One Roof yang kini berusia 65 tahun, membuka sesi dengan mengungkapkan bahwa pekerjaan paruh waktu pertamanya identik dengan pekerjaan tetapnya: menjadi guru piano. Ia mulai mengajar pada usia 14 tahun dengan bayaran S$30 per bulan untuk empat sesi. Meski sempat dianggap ‘menipu’ oleh Mark Lee karena usianya yang masih belia, Koh ternyata telah mencapai Grade 8 sejak usia 14 tahun—kualifikasi yang sah untuk mengajar.
Suhaimi Yusof, lawan main Mark Lee di serial Police & Thief, menceritakan pengalamannya membantu kakek buyutnya berjualan nasi padang di Arab Street. Dengan bayaran S$17 per hari, ia bekerja dari pukul 6 pagi hingga 1 siang. Saat menunggu panggilan kerja dari Mediacorp, ia sempat menjadi salesman penyedot debu di Thomson Yaohan. Suhaimi dengan jenaka mengakui bahwa ia kerap mengejar komisi tambahan—bahkan berhasil membujuk seorang ibu untuk membeli 15 botol sampo.
Mark Lee, komedian berusia 57 tahun, membuat rekan-rekannya terkejut saat mengaku mulai bekerja sejak usia 5–6 tahun. Ia membantu ayahnya menjual rambutan (ang mo tan) di lorong-lorong HDB sambil berteriak dalam bahasa Hokkien. Ironisnya, ia tidak menerima upah sepeser pun karena uang hasil penjualan langsung diambil ayahnya. Setelah menyelesaikan wajib militer, Lee berjualan chee cheong fun di Taman Jurong. Ia juga dengan enteng menanggapi ejekan soal kegagalannya di O-Levels, dengan alasan ia sengaja tidak lulus karena tahu akan menjadi selebriti populer.
Gurmit Singh, yang dikenal lewat karakter Phua Chu Kang, memulai pekerjaan pertamanya pada usia 11 tahun dengan membantu ayahnya yang bekerja sebagai satpam bank. Pada hari Sabtu, ia diberi kepercayaan untuk menjaga bank dan mengunci gedung. Keluarganya bahkan tidur di dalam bank—tepat di samping brankas. Seperti Lee, Singh tidak mendapat bayaran. Namun, pengalaman itu justru membawanya ke dunia hiburan: saat wajib militer, ia bergabung dengan Music & Drama Company dan kemudian ditemukan bakatnya saat tampil di musikal Haw Par Villa.
Kisah-kisah ini bukan sekadar nostalgia. Di tengah hiruk-pikuk industri hiburan yang kerap menampilkan sisi glamor, pengakuan para komedian ini menjadi pengingat bahwa kerja keras dan pengalaman awal—betapapun sederhananya—sering menjadi fondasi kesuksesan. Bagi pembaca di Indonesia, cerita ini juga relevan: banyak artis Tanah Air yang memulai karier dari pekerjaan serupa, seperti berjualan pasar atau jadi guru les. Fenomena ini menunjukkan bahwa bakat dan ketekunan bisa muncul dari mana saja.
Ke depan, kisah seperti ini mungkin akan semakin jarang terdengar, mengingat perubahan ekonomi dan pola kerja generasi muda. Namun, satu hal yang pasti: perjalanan karier tidak selalu linier, dan pekerjaan pertama—meski tak dibayar—bisa menjadi pelajaran berharga yang membentuk karakter. Apakah para komedian ini akan kembali berbagi cerita masa lalu di episode mendatang? Publik tentu menanti.



