AS dan Iran Saling Serang di Selat Hormuz: Negosiasi Gencatan Senjata di Ambang Kehancuran
Baca dalam 60 detik
- Gelombang serangan udara AS menghantam 140 target di Iran sebagai balasan atas serangan Tehran terhadap kapal kontainer di Selat Hormuz yang menewaskan satu awak India.
- Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Bahrain, Kuwait, Qatar, Yordania, dan Oman, memicu kekhawatiran akan konflik regional yang lebih luas.
- Selat Hormuz, jalur vital energi global, menjadi titik buntu dalam perundingan interim 60 hari antara Washington dan Tehran yang kini terancam gagal total.

Amerika Serikat melancarkan tiga gelombang serangan udara ke Iran pada Minggu (13/7) sebagai respons atas serangan Tehran terhadap sebuah kapal kontainer di Selat Hormuz yang menyebabkan kapal terbakar dan satu awak hilang. Iran segera membalas dengan menghujani rudal ke sejumlah negara Teluk yang menjadi basis militer AS, memicu eskalasi yang mengancam runtuhnya perundingan gencatan senjata yang sudah berlangsung puluhan hari.
Serangan AS, yang menurut pernyataan resmi Pentagon bertujuan "menurunkan kemampuan Iran menyerang kapal dagang yang melintas bebas" di selat strategis itu, menargetkan sekitar 140 sasaran. Termasuk di dalamnya lokasi peluncuran rudal dan drone, gudang amunisi, serta peralatan komunikasi. Gubernur Pulau Qeshm di dekat selat melaporkan proyektil menghantam sasaran militer tanpa menimbulkan korban jiwa, sementara ledakan terdengar hingga kota pesisir Bandar Abbas dan Hajiabad.
Iran tidak tinggal diam. Tehran melancarkan serangan ke Bahrain—markas Armada Kelima Angkatan Laut AS—serta Kuwait, Qatar, Yordania, dan Oman. Militer Qatar mengaku berhasil mencegat tembakan Iran, namun tiga warga sipil, termasuk seorang anak, terluka akibat pecahan peluru. Kuwait melaporkan tiga pos perbatasan dan satu anjungan pengeboran lepas pantai rusak, dengan satu pekerja terluka. Yordania mencatat tiga rudal Iran menghantam wilayahnya tanpa korban jiwa. Oman, yang sehari sebelumnya menggelar perundingan dengan Iran soal selat, menjadi sasaran serangan drone—langkah yang memicu pemanggilan duta besar Iran oleh Kementerian Luar Negeri Oman untuk pertama kalinya sejak perang dimulai.
Selat Hormuz, yang menjadi jalur transit seperlima pasokan minyak dan gas dunia, kembali menjadi pusat ketegangan. Iran bersikeras selat itu ditutup hingga situasi kondusif, sementara AS dan Presiden Donald Trump menegaskan jalur tersebut tetap terbuka. Trump, dalam wawancara dengan NBC, menyatakan "kami menghujani mereka dengan bom tadi malam." Namun, pernyataan itu kontras dengan fakta bahwa perundingan interim 60 hari antara kedua negara—yang dimaksudkan untuk mencapai gencatan senjata permanen—kini berada di titik kritis. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan bahwa "kembali ke permusuhan skala penuh akan menimbulkan konsekuensi bencana."
Bagi Indonesia, eskalasi di Selat Hormuz memiliki implikasi langsung. Sebagai negara pengimpor minyak mentah terbesar di Asia Tenggara, setiap gangguan di jalur tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi domestik. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) perlu waspada terhadap fluktuasi pasokan, mengingat sebagian besar impor minyak Indonesia masih bergantung pada jalur laut yang melewati kawasan konflik. Selain itu, keselamatan awak kapal asal Indonesia yang bekerja di perairan internasional juga patut diantisipasi, mengingat insiden terbaru melibatkan satu awak India yang hilang setelah kapalnya diserang.
Di tengah gempuran militer, upaya diplomasi masih berlangsung. Pakistan, Qatar, dan Mesir terus menjadi mediator, meski Trump pekan lalu menyebut kesepakatan interim "sudah berakhir." Menteri Luar Negeri Pakistan dilaporkan bertelepon dengan diplomat tertinggi Iran untuk mendorong de-eskalasi. Namun, pernyataan keras dari Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf—"era kesepakatan sepihak sudah berakhir"—menunjukkan Tehran belum berniat mundur. Sementara itu, pemimpin tertinggi baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, dalam pernyataan pertamanya sejak pemakaman ayahnya, bersumpah akan membalas kematian Ali Khamenei yang tewas dalam serangan pembuka perang pada 28 Februari lalu.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah para mediator menjembatani kesenjangan yang semakin lebar antara tuntutan Iran yang ingin mengontrol penuh Selat Hormuz dan tekad AS untuk menjaga kebebasan navigasi? Ataukah dunia akan menyaksikan konflik terbuka yang melumpuhkan jalur energi paling vital di planet ini?



