Prancis di Ambang Sejarah: Final Piala Dunia Kelima dalam Delapan Edisi
Baca dalam 60 detik
- Kylian Mbappé dan Ousmane Dembélé telah mengoleksi 13 gol, menjadikan Prancis tim paling produktif di turnamen.
- Prancis berpeluang menjadi negara pertama sejak Brasil (1994-2002) yang tampil di tiga final Piala Dunia beruntun.
- Spanyol, yang hanya kebobolan satu gol, menjadi ujian terbesar bagi fleksibilitas taktik Les Bleus.

Prancis hanya butuh satu kemenangan lagi untuk menorehkan tinta emas dalam sejarah Piala Dunia. Tim besutan Didier Deschamps akan menghadapi Spanyol pada laga semifinal, Selasa (14/7) waktu Dallas, dengan target menembus final untuk kelima kalinya dalam delapan edisi terakhir—sebuah pencapaian yang hanya bisa dibayangkan oleh sebagian besar negara peserta.
Jalan menuju partai puncak tidak akan mudah. Spanyol, yang hanya kebobolan satu gol sepanjang turnamen, telah menjadi momok bagi Prancis dalam dua pertemuan terakhir: kemenangan di semifinal Euro 2024 dan drama sembilan gol di Nations League tahun lalu. Namun, Les Bleus datang dengan senjata baru—duet maut Kylian Mbappé (8 gol) dan Ousmane Dembélé (5 gol) yang telah mencetak 13 gol, serta keseimbangan tim yang jauh lebih matang dibanding edisi sebelumnya.
Perbandingan dengan semifinal Euro 2024 di Munich sungguh kontras. Saat itu Prancis tampil pincang: Mbappé bermain dengan hidung patah, Antoine Griezmann kehilangan pengaruh, dan tim kesulitan mencetak gol dari permainan terbuka. Kini, Michael Olise menjadi pengatur serangan yang brilian, sementara Bradley Barcola dan Désiré Doué memberikan opsi eksplosif dari bangku cadangan. Fleksibilitas taktik Deschamps teruji saat mereka mampu menekan, memperlambat permainan, atau bertahan dalam blok kompak tanpa kehilangan ketenangan.
Spanyol, di sisi lain, tetap setia pada filosofi penguasaan bola ala Luis de la Fuente. Mereka tidak hanya menciptakan peluang, tetapi juga mencekik lawan dan melindungi pertahanan. Catatan satu gol kebobolan menunjukkan betapa sulitnya menembus pertahanan La Roja. Namun, Belgia sempat membuktikan bahwa Spanyol bisa goyah jika lawan berhasil melewati tekanan awal dan menyerang ruang di belakang lini tengah.
Prancis diyakini lebih siap menghadapi Spanyol. Kecepatan Mbappé akan memaksa bek Spanyol untuk tidak terlalu maju, sementara Dembélé bisa menyerang dari sayap. Olise, yang menjadi penghubung utama, mampu bergerak ke dalam untuk berkolaborasi dengan lini tengah sebelum melancarkan serangan. Deschamps harus memutuskan apakah akan memperkuat lini tengah atau tetap setia pada struktur menyerang yang membuat Prancis menjadi tim paling ditakuti.
“Kami satu-satunya yang mengalahkan mereka dua kali berturut-turut, tetapi pertandingan ketiga ini akan sangat berbeda,” ujar De la Fuente usai kemenangan atas Belgia. “Dua tim level tinggi akan saling berhadapan.”
Konsistensi Prancis dibangun oleh kemampuan Deschamps meremajakan tim tanpa kehilangan identitas kompetitif. Tim juara 2018 bertumpu pada soliditas pertahanan dan transisi cepat; finalis 2022 bergantung pada kecemerlangan Mbappé. Versi kali ini lebih dalam, lebih berani, dan tidak bergantung pada satu jalur kemenangan. Spanyol mungkin satu-satunya lawan yang bisa mengekspos kelemahan yang tersisa, tetapi Prancis datang dengan daya gedor lebih besar, kepercayaan diri lebih tinggi, dan keyakinan bahwa kekalahan masa lalu tidak lagi mendefinisikan pertemuan ini. Pertanyaannya: apakah evolusi Les Bleus sudah cukup untuk menaklukkan tembok Spanyol?



