Sinner Kukuhkan Dominasi: Kalahkan Zverev di Final Wimbledon, Rebut Gelar Kelima Grand Slam
Baca dalam 60 detik
- Jannik Sinner sukses mempertahankan gelar juara Wimbledon setelah mengalahkan Alexander Zverev dalam final lima set yang menegangkan.
- Kemenangan ini menjadi yang ke-10 berturut-turut bagi Sinner atas Zverev, sekaligus menempatkannya dalam jajaran elit petenis yang mampu mempertahankan mahkota Wimbledon di era profesional.
- Zverev, yang baru saja menjuarai Prancis Terbuka, harus mengakui keunggulan Sinner setelah insiden terjatuh di set ketiga mengubah momentum pertandingan.

Unggulan pertama asal Italia, Jannik Sinner, berhasil mempertahankan mahkota Wimbledon setelah menaklukkan Alexander Zverev dalam pertarungan sengit selama tiga jam 46 menit di Centre Court, Minggu (12/7). Kemenangan ini sekaligus menggenapkan koleksi gelar Grand Slam Sinner menjadi lima, serta memperpanjang rekor kemenangan beruntunnya atas petenis Jerman tersebut menjadi sepuluh kali.
Pertandingan final yang berlangsung di bawah terik matahari London itu menyajikan duel kekuatan dari baseline dengan servis-servis mematikan dan pukulan-pukulan keras. Zverev, yang baru pertama kali tampil di final Wimbledon setelah menjuarai Prancis Terbuka, tampil agresif dan berhasil merebut set pertama melalui tiebreak 7-6(7). Namun, Sinner yang sempat frustrasi di awal set kedua akhirnya menemukan ritme dan menyamakan kedudukan lewat tiebreak 7-6(2).
Pertandingan memasuki titik balik di set ketiga saat kedudukan 3-3. Zverev, yang untuk pertama kalinya mendapatkan break point setelah dua jam 42 menit, justru terjatuh saat berusaha mengejar drop shot Sinner. Meski mengaku baik-baik saja, pergerakan Zverev menjadi terbatas dan ia kehilangan servisnya untuk pertama kalinya. Sinner memanfaatkan momentum tersebut untuk merebut set ketiga 6-3 dan keempat 6-4.
Bagi Zverev, kekalahan di final Grand Slam keempatnya tentu menyakitkan. Namun, petenis berusia 29 tahun itu bisa berbangga dengan pencapaiannya musim ini. Setelah 41 kali mencoba, ia akhirnya meraih gelar Grand Slam pertamanya di Prancis Terbuka dan untuk pertama kalinya menjadi ancaman serius di lapangan rumput Wimbledon. "Pada usia 29, ini pertama kalinya saya percaya bisa memenangkan trofi ini," ujar Zverev usai pertandingan.
Sinner, yang sempat mengalami kegagalan di babak kedua Prancis Terbuka dan nyaris tersingkir di babak pertama Wimbledon, mengaku bersyukur bisa kembali ke performa terbaiknya. "Tidak ada tempat yang lebih baik untuk bermain tenis. Saya berdiri di sini, Anda bisa merasakan kegugupan di hari Minggu pagi saat bangun tidur, bahwa ini adalah hari yang sangat istimewa, dan Anda tidak pernah tahu berapa kali bisa kembali. Jadi saya tidak pernah menganggap remeh," kata Sinner sambil mengangkat trofi Challenge Cup.
Kemenangan ini menegaskan dominasi Sinner di puncak tenis dunia. Dengan usianya yang baru 24 tahun, ia diprediksi akan terus mengoleksi gelar-gelar Grand Slam lainnya. Pertanyaannya, mampukah Zverev atau petenis lain mematahkan dominasi Sinner di masa depan, atau akankah era baru tenis putra dikuasai oleh petenis Italia ini?



