Kisah Han Yaping: Siswi Miskin Raih Nilai Sempurna di Gaokao, Tolak Bantuan Live-Streamer
Baca dalam 60 detik
- Han Yaping, siswi dari keluarga miskin di Henan, meraih skor 699/750 di Gaokao dan diterima di Tsinghua serta Peking University.
- Ia menolak tawaran donasi dari live-streamer yang berdatangan ke rumahnya, memilih bekerja paruh waktu dan mengandalkan beasiswa kampus.
- Komentarnya tentang bahaya ponsel bagi pelajar memicu perdebatan sengit di media sosial China.

Seorang remaja perempuan dari keluarga petani miskin di Provinsi Henan, China, mencatat prestasi gemilang dengan meraih nilai 699 dari 750 dalam ujian masuk perguruan tinggi nasional (Gaokao). Han Yaping, 18 tahun, langsung menjadi sorotan setelah diterima di dua universitas terbaik negeri itu, Tsinghua University dan Peking University. Namun, di tengah gemerlap tawaran bantuan dari puluhan live-streamer yang berbondong-bondong ke rumahnya, Han justru memilih jalan mandiri: menolak donasi dan berencana membiayai kuliahnya sendiri.
Kisah Han menjadi fenomena karena kontras antara prestasi akademiknya dan kondisi keluarganya yang serba kekurangan. Sang ibu menderita ankylosing spondylitis, penyakit radang sendi tulang belakang yang membuatnya tak bisa bekerja. Ayahnya hanya mengandalkan hasil bertani dan pekerjaan serabutan sebagai tulang punggung keluarga. Han juga memiliki seorang adik perempuan. Meski hidup dalam keterbatasan, Han berhasil belajar tanpa les tambahanโsebuah keistimewaan yang jarang dimiliki siswa seusianya di China.
Sekolahnya memberikan keringanan biaya, tempat tinggal gratis, dan uang saku bulanan. Ayah Han menuturkan, uang jajan mingguan yang diberikan hanya 10-20 yuan (sekitar Rp22.000-Rp44.000), namun Han jarang menghabiskannya dan selalu mengembalikan sisa saat pulang. Ketekunannya berbuah manis: selain nilai nyaris sempurna, dinding rumahnya dipenuhi sertifikat penghargaan yang diraih selama bertahun-tahun.
Setelah kabar prestasinya viral, puluhan live-streamer berdatangan ke rumah Han di desa terpencil. Sebagian ingin menyumbang dana pendidikan, sebagian lagi sekadar mencari popularitas dengan menyiarkan langsung kunjungan mereka. Namun, Han menolak semua tawaran itu dengan sopan. โSaya bersyukur atas kebaikan mereka, tapi saya ingin berusaha sendiri,โ ujarnya. Ia berencana bekerja paruh waktu sambil kuliah. Kedua universitas yang menerimanya juga dikabarkan siap memberikan bantuan keuangan.
Pernyataan Han tentang tidak memiliki ponsel dan kritiknya terhadap kecanduan gawai pelajar memicu perdebatan hangat di media sosial. โJika kamu tidak belajar keras sekarang, kamu akan kesulitan di masa depan,โ katanya. Sejumlah warganet menilai pandangannya sempit, dengan alasan ponsel hanyalah alat. Namun, banyak pula yang membelanya, mengingat latar belakang ekonominya yang minim dukungan. โBagi siswa tanpa dukungan finansial atau pendidikan dari keluarga, wajar jika mereka mendorong diri tanpa henti untuk meraih kesempatan mengubah hidup,โ tulis seorang pengguna.
Gaokao memang menjadi tiket emas bagi siswa dari keluarga kurang mampu di China. Han sendiri masih bimbang antara memilih jurusan kedokteran atau teknik. Ia condong ke kedokteran karena terinspirasi kondisi kesehatan ibunya. Sejumlah dokter telah menawarkan bimbingan secara daring untuk membantunya mengambil keputusan.
Kisah Han Yaping mengingatkan pada realitas pendidikan di Indonesia, di mana Ujian Nasional atau jalur masuk perguruan tinggi seperti SNMPTN kerap menjadi penentu nasib siswa dari keluarga prasejahtera. Namun, akses terhadap bimbingan belajar dan teknologi masih timpang. Fenomena live-streamer yang mengeksploitasi prestasi siswa juga mulai terlihat di Tanah Air, meski belum separah di China. Pertanyaannya, akankah sistem pendidikan Indonesia mampu memberikan beasiswa dan dukungan yang cukup agar siswa berprestasi seperti Han tidak perlu bergantung pada donasi dadakan?



