Gelombang Panas Ekstrem Landa Korea Selatan, Peringatan Darurat Pertama Dikeluarkan
Baca dalam 60 detik
- Korea Selatan mengaktifkan sistem peringatan panas ekstrem baru setelah suhu di dua kota mencapai 39 derajat Celsius, level yang dianggap berbahaya bagi manusia.
- Rata-rata hari panas ekstrem di negara itu meningkat dua kali lipat dalam 50 tahun terakhir, dari 8 hari pada 1970-an menjadi 19 hari per tahun.
- Fenomena El Nino dan perubahan iklim memperparah frekuensi gelombang panas global, termasuk di Eropa yang mencatat ribuan kematian lebih.

Korea Selatan untuk pertama kalinya mengeluarkan peringatan darurat gelombang panas pada Minggu (12/7) setelah suhu di Gyeongsan dan Pohang, Provinsi Gyeongsang Utara, menembus 39 derajat Celsius—level yang dinilai mengancam jiwa bahkan bagi orang sehat. Sistem peringatan baru ini diaktifkan sebagai respons terhadap meningkatnya frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem di Semenanjung Korea.
Kepala Badan Meteorologi Korea (KMA), Lee Mi-seon, dalam konferensi pers menjelaskan bahwa peringatan darurat dikeluarkan ketika suhu yang dirasakan mencapai 38 derajat Celsius atau suhu aktual 39 derajat Celsius selama satu hari. "Ini pertama kalinya peringatan dikeluarkan sejak sistem diberlakukan tahun ini," ujarnya. Warga diimbau menghentikan aktivitas luar ruangan dan segera berlindung di tempat sejuk, serta tidak meninggalkan anak-anak atau hewan peliharaan di dalam kendaraan.
Sebagian besar wilayah Korea Selatan, termasuk sebagian Seoul, masih berada dalam status waspada gelombang panas—level yang lebih rendah—ketika suhu yang dirasakan diperkirakan bertahan di atas 35 derajat Celsius selama dua hari berturut-turut. Data KMA menunjukkan bahwa rata-rata tahunan hari panas ekstrem (suhu maksimal di atas 33 derajat Celsius) di Korea Selatan meningkat lebih dari dua kali lipat dalam lima dekade terakhir, dari 8 hari pada 1970-an menjadi 19 hari. Sementara itu, jumlah malam tropis—saat suhu minimum tetap di atas 25 derajat Celsius—melonjak dari 4 menjadi 14 malam per tahun.
Gelombang panas di Korea Selatan terjadi di tengah musim panas ekstrem yang melanda Eropa. Juni lalu, rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah pecah di Jerman, Polandia, Ceko, Slowakia, Hungaria, Inggris, dan Swiss. Prancis mencatat lebih dari 2.000 kematian berlebih selama gelombang panas Juni, dan 300 kematian tambahan pada akhir Mei. Menara Eiffel dan sejumlah landmark Paris tutup lebih awal, sementara Tour de France untuk pertama kalinya memperpendek etape balapan.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia membuat gelombang panas semakin sering dan intens. Layanan Kelautan Copernicus Uni Eropa melaporkan bahwa suhu laut global pada Juni 2026 merupakan yang tertinggi dalam catatan sejarah. Laut yang lebih hangat memperkuat siklon tropis dan menambah uap air yang berpotensi memicu hujan deras. Fenomena El Nino yang kembali tahun ini—siklus alami pemanasan suhu permukaan laut Pasifik—semakin memperburuk situasi.
Bagi Indonesia, gelombang panas ekstrem di Korea Selatan dan Eropa menjadi pengingat bahwa perubahan iklim tidak mengenal batas geografis. Meskipun Indonesia berada di khatulistiwa dengan iklim tropis, peningkatan suhu global berpotensi memicu cuaca ekstrem seperti kekeringan berkepanjangan atau hujan lebat yang memicu banjir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya mencatat tren kenaikan suhu rata-rata di Indonesia sebesar 0,03 derajat Celsius per tahun sejak 1980-an. Pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi dampak kesehatan dan pertanian dari gelombang panas yang mungkin semakin sering terjadi.
Ke depan, pertanyaan mendesak adalah apakah sistem peringatan dini seperti yang diterapkan Korea Selatan dapat diadopsi di negara tropis seperti Indonesia, dan seberapa siap infrastruktur serta kesadaran publik menghadapi ancaman panas ekstrem yang kian nyata.



