Jelly Roll Samakan Perjuangan Lawan Makan Berlebih dengan Kecanduan Narkoba
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi country Jelly Roll mengaku mengalami episode makan berlebih akibat stres, yang dipicu oleh satu gigitan makanan manis.
- Ia menyamakan pola makannya dengan perilaku adiktif, di mana satu porsi kecil bisa berujung pada konsumsi ribuan kalori dalam sehari.
- Pengalaman ini membuka diskusi tentang hubungan antara gangguan makan dan kecanduan, terutama di tengah tekanan hidup publik figur.

Penyanyi country Jelly Roll, yang dikenal dengan nama asli Jason Bradley DeFord, kembali membuka suara tentang perjuangannya melawan kebiasaan makan berlebih. Dalam video terbaru di kanal YouTube pribadinya, pelantun 'Son of a Sinner' itu mengaku bahwa dirinya kerap kali kalah melawan dorongan untuk makan saat stres, sebuah pola yang ia samakan dengan kecanduan narkoba.
Pria berusia 41 tahun tersebut telah melalui perjalanan penurunan berat badan yang cukup dramatis, kehilangan hampir 300 pon sejak 2022. Namun, ia mengakui bahwa godaan untuk 'stress eating' masih kerap menghantuinya. "Selama tiga atau empat hari terakhir, saya makan berlebihan. Saya merasa diri saya sedang stress eating," ujarnya dalam video tersebut.
Yang menarik, Jelly Roll menggambarkan bagaimana satu keputusan kecil soal makanan bisa memicu efek domino yang berlangsung berhari-hari. Ia mencontohkan saat dirinya mencoba satu porsi kue kering bebas susu setelah sebuah pertunjukan. "Saya seperti pecandu narkoba. Saya tidak bisa makan itu, karena jika saya makan satu, saya akan makan dua, lalu empat," katanya. Malam itu berlanjut ke taco truck dan akhirnya mencari cokelat di rest area, hingga total kalori ekstra yang tak terduga mencapai 2.000 kalori dalam sehari.
Pernyataan Jelly Roll menyoroti sisi gelap dari perjuangan berat badan yang jarang dibicarakan: hubungan antara makanan dan perilaku adiktif. Ia mengaku bahwa dirinya tidak bisa setengah-setengah dalam hal apa pun, baik itu alkohol, kokain, maupun makanan. "Saya tidak pernah minum satu shot, tidak pernah menghirup satu garis kokain, tidak pernah merokok satu batang ganja. Kalau saya lakukan, ya sudah, seharian penuh," tegasnya.
Pengakuan ini membuka ruang diskusi yang lebih luas tentang gangguan makan, terutama di kalangan pria dan figur publik. Di Indonesia, isu serupa kerap muncul di tengah tekanan sosial terhadap penampilan fisik, namun masih jarang dibahas secara terbuka. Para ahli psikologi menilai bahwa pola pikir 'semua atau tidak sama sekali' seperti yang diungkapkan Jelly Roll merupakan ciri khas gangguan makan dan kecanduan, yang membutuhkan pendekatan holistik, bukan sekadar diet.
Langkah Jelly Roll untuk menghindari total makanan pemicu, seperti kue kering atau stroberi dalam mangkuk besar, merupakan strategi yang dikenal dalam terapi kecanduan sebagai 'pantang total'. Namun, ia juga mengakui bahwa satu kali 'tergelincir' bisa berakibat fatal. "Orang bilang, 'Oh, kamu bisa makan satu untuk cheat meal.' Saya bilang, 'Kamu bisa, saya tidak.' Karena bagi saya, itu bisa menjadi pesta makan lima hari," pungkasnya.
Ke depan, publik akan terus mengamati bagaimana Jelly Roll menjaga konsistensi di tengah tekanan tur dan kehidupan pribadi yang baru saja mengalami perubahan, termasuk perpisahannya dengan istri, Bunnie Xo. Akankah kesadaran akan pola adiktif ini cukup untuk membantunya tetap pada jalur? Ataukah godaan akan selalu menjadi musuh terbesarnya?



