Mantan Menteri Inggris Tewas Dibunuh: Polisi Pastikan Tak Ada Motif Politik
Baca dalam 60 detik
- Ann Widdecombe, mantan menteri era John Major, ditemukan tewas dengan luka serius di kediamannya di barat daya Inggris.
- Polisi telah menangkap seorang pria 28 tahun dan menyatakan tidak ada indikasi motif politik atau terorisme dalam pembunuhan ini.
- Kasus ini memicu kembali kekhawatiran atas keamanan politisi Inggris, mengingat dua anggota parlemen tewas dibunuh dalam satu dekade terakhir.

Polisi Inggris memastikan bahwa pembunuhan Ann Widdecombe, mantan menteri era John Major yang ditemukan tewas di rumahnya di Haytor, Devon, pada Kamis lalu, tidak memiliki kaitan dengan motif politik atau terorisme. Kepastian ini disampaikan setelah seorang pria berusia 28 tahun ditangkap di Rotherham, Inggris utara, pada Sabtu malam.
Widdecombe, 78 tahun, ditemukan dengan luka serius di kediamannya di pedesaan barat daya Inggris. Asisten Kepala Polisi Devon dan Cornwall, Matt Longman, menegaskan bahwa penyidik masih terus mendalami kemungkinan motif lain. "Sampai saat ini, tidak ada informasi yang mengarah pada insiden terkait terorisme, dan kami tidak mencari tersangka lain," ujarnya kepada wartawan, Minggu (12/7).
Seorang tersangka lain yang ditangkap pada Jumat telah dibebaskan tanpa dakwaan keesokan harinya. Polisi meminta publik tidak berspekulasi mengenai motif di balik pembunuhan ini selama penyelidikan masih berlangsung. Longman menambahkan bahwa penyidik tetap berpikiran terbuka, namun sejauh ini tidak ada bukti pembunuhan bermotif politik.
Widdecombe dikenal sebagai politikus konservatif sosial yang pernah menjabat sebagai menteri junior di bawah Perdana Menteri John Major pada 1990-an. Ia mundur dari parlemen pada 2010, namun kemudian bergabung dengan Partai Reformasi UK pimpinan Nigel Farage sebagai juru bicara imigrasi dan kehakiman. Karier politiknya yang panjang dan kontroversial, terutama dalam isu-isu sosial, membuat namanya kerap menjadi sorotan.
Pembunuhan ini kembali mengingatkan pada dua kasus pembunuhan anggota parlemen Inggris dalam satu dekade terakhir. Anggota Partai Buruh Jo Cox ditembak dan ditikam oleh pelaku yang terobsesi dengan Nazi saat kampanye Brexit pada 2016. Sementara itu, anggota Partai Konservatif David Amess ditikam hingga tewas pada 2021 oleh seorang pria yang terinspirasi kelompok militan Islamic State. Kedua peristiwa itu sempat memicu perdebatan sengit mengenai keamanan politisi dan polarisasi politik di Inggris.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keamanan publik figur di tengah meningkatnya tensi politik. Meski motif pembunuhan Widdecombe belum jelas, insiden ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas perlindungan terhadap mantan pejabat negara. Di Indonesia, perlindungan terhadap tokoh politik dan mantan pejabat juga kerap menjadi sorotan, terutama setelah sejumlah kasus kekerasan terhadap aktivis dan politisi.
Ke depan, investigasi polisi Inggris akan menjadi kunci untuk mengungkap motif sebenarnya di balik pembunuhan Widdecombe. Apakah kasus ini murni kriminal biasa atau ada kaitannya dengan latar belakang politik korban? Publik menunggu perkembangan lebih lanjut dari penyelidikan yang masih berjalan.



