SoFi Stadium Lulus Ujian Berat Piala Dunia, Siap Gelar Super Bowl dan Olimpiade 2028
Baca dalam 60 detik
- Stadion SoFi di Inglewood sukses menggelar delapan laga Piala Dunia tanpa insiden besar, termasuk dua partai sensitif melibatkan Iran.
- Manajemen stadion mengaku pengalaman ini memvalidasi sistem keamanan, logistik, dan tata kelola penonton untuk event skala raksasa ke depan.
- Keberhasilan ini menjadi modal berharga menjelang Super Bowl Februari mendatang serta seremoni Olimpiade Los Angeles 2028.

SoFi Stadium, stadion senilai US$5 miliar di Inglewood, California, berhasil melewati ujian berat setelah menjadi tuan rumah delapan pertandingan Piala Dunia, termasuk laga pembuka Amerika Serikat dan dua partai yang melibatkan Iran, tanpa menimbulkan insiden berarti. Keberhasilan ini membuat manajemen stadion semakin percaya diri menghadapi sederet mega-event berikutnya, mulai dari Super Bowl pada Februari mendatang hingga Olimpiade Los Angeles 2028.
Otto Benedict, Wakil Presiden Senior Operasional Fasilitas dan Kampus SoFi Stadium dan Hollywood Park, menilai bahwa pengalaman Piala Dunia ini menjadi bukti nyata efektivitas perencanaan yang telah disusun selama bertahun-tahun. "Dari sisi keamanan publik, saya rasa semuanya berjalan sangat baik," ujarnya dalam wawancara dengan Reuters. Ia menambahkan bahwa koordinasi antara aparat penegak hukum, aset federal, dan pihak lokal berjalan sinergis, terutama saat menangani dua pertandingan Iran yang memiliki sensitivitas politik tinggi.
Selama sebulan penuh, stadion yang juga menjadi markas dua tim NFL ini harus beradaptasi dengan pola operasional yang berbeda dari pertandingan American football. Benedict mencatat bahwa penonton sepak bola cenderung meninggalkan tempat duduk secara massal saat jeda babak pertama, memberikan tekanan ekstra pada area concourse, gerai makanan, dan toilet. Namun, sistem stadion mampu mengelola lonjakan tersebut tanpa hambatan berarti. "Tidak ada satu pun titik yang terasa terlalu padat. Semua aliran penonton berjalan lancar," tegasnya.
Salah satu sorotan positif adalah kualitas rumput alami sementara yang dipasang khusus untuk turnamen. Benedict mengakui bahwa permukaan lapangan melebihi ekspektasi dan semakin membaik seiring berjalannya turnamen. Meski demikian, ia menegaskan bahwa mempertahankan rumput alami secara permanen tidak realistis mengingat jadwal padat stadion yang meliputi pertandingan dua tim NFL, konser, dan berbagai acara lainnya. "Itu tidak akan menjadi operasi yang layak," katanya, merujuk pada struktur stadion yang berada di bawah permukaan tanah, atap kanopi, serta jadwal acara sepanjang tahun.
Benedict juga menyayangkan bahwa SoFi tidak mendapat kesempatan menjadi tuan rumah semifinal atau final Piala Dunia. Namun, ia menekankan bahwa turnamen ini telah membuktikan kesiapan stadion untuk menghelat Super Bowl kedua kalinya setelah 2022, serta menjadi tuan rumah Olimpiade 2028. "Ini memberi kami kemampuan untuk mengatakan kepada siapa pun yang datang, dan bahkan untuk operasi kami sendiri, bahwa apa yang kami lakukan sudah tepat. Mari terus melangkah maju," pungkasnya.
Bagi Indonesia, keberhasilan SoFi Stadium menjadi contoh bagaimana sebuah venue serbaguna dapat dioptimalkan untuk berbagai ajang olahraga global. Dengan rencana pembangunan stadion baru di Indonesia, seperti di Ibu Kota Nusantara, pengalaman SoFi dalam mengelola keamanan, logistik, dan kenyamanan penonton lintas cabang olahraga dapat menjadi referensi berharga. Pertanyaan selanjutnya: akankah Indonesia mampu meniru kesuksesan serupa saat menjadi tuan rumah event internasional di masa depan?



