Bangkok Siaga Banjir Rob: Tujuh Provinsi Terancam, Warga Diimbau Evakuasi
Baca dalam 60 detik
- Pasang laut tinggi diprediksi meluapkan Sungai Chao Phraya dan kanal di Bangkok serta enam provinsi sekitarnya pada 13-19 Juli.
- Badan Penanggulangan Bencana Thailand memperingatkan risiko terbesar pada sore hingga malam hari, terutama di permukiman tanpa tanggul permanen.
- Peringatan dini disebar lewat aplikasi Thai Disaster Alert dan hotline 1784, dengan imbauan warga untuk memindahkan barang berharga.

Bangkok dan enam provinsi di Thailand tengah bersiaga menghadapi ancaman banjir rob akibat pasang laut tinggi yang diprediksi berlangsung pada 13 hingga 19 Juli 2026. Otoritas setempat memperingatkan bahwa air laut yang naik dapat meluapkan Sungai Chao Phraya dan jaringan kanal, menggenangi kawasan pemukiman rendah yang tidak memiliki perlindungan permanen.
Departemen Pencegahan dan Mitigasi Bencana Thailand (DDPM) menyatakan bahwa risiko tertinggi terjadi antara pukul 18.00 hingga 22.00 waktu setempat. Wilayah yang paling rentan adalah permukiman di tepi sungai dan kanal yang berada di luar tanggul banjir atau tanpa sistem pertahanan banjir tetap. Direktur Jenderal DDPM, Theerapat Katchamat, mengungkapkan bahwa pihaknya terus memantau data dari Dinas Hidrografi Angkatan Laut Kerajaan Thailand terkait tinggi muka air di sekitar Benteng Phra Chulachomklao dan area sekitarnya.
Peringatan yang dikeluarkan pada 8 Juli oleh Dinas Hidrografi menyebutkan bahwa kenaikan muka air laut dapat menyebabkan sungai dan kanal meluap, terutama di daerah tanpa penghalang banjir permanen. Air diperkirakan akan memasuki komunitas dataran rendah, termasuk kawasan bisnis seperti restoran terapung dan proyek konstruksi di sepanjang sungai. Otoritas setempat telah diinstruksikan untuk memantau tinggi muka air secara ketat dan memberi tahu warga saat pasang mencapai puncak.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan kota-kota pesisir terhadap kenaikan muka air laut. Jakarta, misalnya, menghadapi ancaman serupa dengan banjir rob yang kerap melanda kawasan utara. Sistem peringatan dini dan infrastruktur tanggul menjadi krusial, namun biaya pembangunan dan pemeliharaan sering menjadi kendala. Kolaborasi regional dalam pertukaran data hidrologi dan teknologi mitigasi bisa menjadi langkah strategis.
Warga di wilayah terdampak diimbau untuk mengikuti pengumuman resmi dan memindahkan barang berharga atau peralatan dari area rawan banjir. DDPM juga mengingatkan operator bisnis di tepi sungai untuk bersiap menghadapi kemungkinan kerugian. Pertanyaan yang mengemuka: apakah sistem peringatan dini dan infrastruktur yang ada cukup untuk melindungi jutaan jiwa yang tinggal di bantaran sungai Chao Phraya? Ke depan, investasi dalam tanggul permanen dan sistem drainase terpadu menjadi keniscayaan bagi Thailand dan negara-negara Asia Tenggara lainnya.



