Skotlandia Kembali Gagal Tumbangkan Afrika Selatan: Ketangguhan Tanpa Konsistensi
Baca dalam 60 detik
- Skotlandia mencetak empat percobaan dan 28 poin, terbanyak dalam 30 pertemuan terakhir melawan Afrika Selatan, namun tetap kalah 32-28 di Pretoria.
- Kegagalan memanfaatkan peluang emas di akhir laga, termasuk operan tendangan yang gagal, menjadi biang keladi kekalahan kedua tim asuhan Gregor Townsend.
- Afrika Selatan yang menurunkan tim lapis kedua tetap mampu memenangi pertandingan, menunjukkan kedalaman skuad yang luar biasa menjelang Piala Dunia 2027.

Skotlandia kembali menelan pil pahit di tanah Afrika Selatan. Dalam laga uji coba yang berlangsung di Stadion Loftus Versfeld, Pretoria, akhir pekan lalu, tim asuhan Gregor Townsend harus mengakui keunggulan tuan rumah dengan skor 32-28, meskipun sempat bangkit dari ketertinggalan 35-14 menjadi 35-28 pada 10 menit terakhir.
Pertandingan ini menjadi cermin sempurna dari karakter Skotlandia: brilian namun rapuh. Mereka mencetak empat percobaanโsebuah pencapaian yang belum pernah terjadi dalam dua pertemuan sebelumnya melawan Springboksโdan mengumpulkan 28 poin, lebih banyak dari yang mereka raih dalam 29 dari 30 pertemuan terakhir. Namun, kegagalan memanfaatkan peluang kunci di momen kritis kembali menghantui.
Salah satu momen paling menyakitkan terjadi pada menit ke-72. Dengan keunggulan jumlah pemain enam lawan dua di sisi kanan, Tom Jordan memilih tendangan silang untuk Kyle Steyn, yang justru gagal menguasai bola. Padahal, Steyn dikenal sebagai salah satu pemain terbaik di dunia dalam duel udara. Peluang emas itu sirna, dan kemenangan pun melayang.
Ketidakmampuan mempertahankan konsentrasi juga terlihat pada periode delapan menit di babak pertama, ketika Skotlandia kebobolan 21 poin berturut-turut. Ewan Ashman gagal memanfaatkan peluang di garis percobaan, Jack Dempsey kehilangan bola di area 22 meter lawan, dan Ashman kembali melakukan kesalahan dengan knock-on di belakang maul. Kesalahan-kesalahan itu langsung dihukum oleh Afrika Selatan yang efisien.
Pelatih Afrika Selatan Rassie Erasmus memang sengaja melakukan rotasi besar-besaran untuk membangun kedalaman skuad menjelang Piala Dunia 2027. Tidak ada nama-nama seperti Eben Etzebeth, Siya Kolisi, Cheslin Kolbe, atau Damian de Allende. Namun, tim lapis kedua Springboks tetap menunjukkan kualitas juara dunia. "Mereka bisa menurunkan tiga atau empat tim kelas dunia," ujar analis rugby, menekankan superioritas sumber daya manusia Afrika Selatan.
Bagi Skotlandia, kekalahan ini terasa lebih pahit karena mereka tidak akan menunggu 12 tahun lagi untuk kesempatan berikutnya. Nations Championship yang baru akan mempertemukan kedua tim lebih sering. Namun, bagi beberapa pemain veteran, kesempatan di Pretoria mungkin menjadi yang terakhir. "Mereka seperti petinju yang terus dipukul tapi tetap berdiri dan melawan," tulis media Inggris menggambarkan kegigihan Skotlandia.
Kapten Sione Tuipulotu, yang dinilai sebagai salah satu pemain terbaik dunia saat ini, memimpin dengan teladan. Namun, konsistensi masih menjadi momok. Dalam lima pertandingan terakhir melawan tim raksasa, Skotlandia kebobolan enam percobaan dari Afrika Selatan, lima dari Argentina, enam dari Irlandia, dan enam dari Prancis. Mereka hanya memenangi dua dari empat laga tersebut.
Laga berikutnya melawan Fiji di Murrayfield akan menjadi ujian pemulihan. Townsend telah mengisyaratkan akan melakukan rotasi. Dua kemenangan dan satu kekalahan dengan bonus poin akan menjadi modal berharga di Nations Championship. Namun, pertanyaan besarnya tetap sama: mampukah Skotlandia akhirnya memecahkan kebuntuan dan menjadi tim yang tidak hanya menghibur, tetapi juga konsisten memenangi pertandingan-pertandingan besar?



