Oda Kukuhkan Dominasi, Hajar Hewett di Final Tunggal Kursi Roda Wimbledon
Baca dalam 60 detik
- Tokito Oda menaklukkan Alfie Hewett 6-1, 6-1 di final Wimbledon, meraih gelar Grand Slam ke-10 dan menyamai rekor Hewett.
- Kemenangan ini merupakan yang keenam beruntun bagi Oda di turnamen mayor, mempertegas hegemoninya sejak 2023.
- Dengan usia baru 20 tahun, Oda kini memburu rekor legenda Shingo Kunieda (28 gelar) dan menjadi ancaman serius di US Open mendatang.

Petenis kursi roda Jepang, Tokito Oda, kembali menunjukkan superioritasnya di lapangan rumput Wimbledon. Minggu (14/7) sore, ia menghancurkan perlawanan tuan rumah Alfie Hewett dengan skor telak 6-1, 6-1 di Court One, merebut gelar tunggal putra ketiganya secara beruntun di All England Club.
Kemenangan ini bukan sekadar mempertahankan mahkota. Bagi Oda yang baru berusia 20 tahun, ini adalah gelar Grand Slam ke-10 dalam kariernya—angka yang persis sama dengan koleksi Hewett. Lebih mencengangkan, ini merupakan kemenangan keenam berturut-turut di turnamen mayor sejak ia terakhir kali kalah, tepatnya dari Hewett di final Australian Open 2025. Sejak awal 2023, duet Oda-Hewett telah memenangi seluruh 14 gelar Grand Slam tunggal putra kursi roda yang dipertandingkan; Oda menguasai sepuluh di antaranya.
Hewett, yang sehari sebelumnya sukses merebut gelar ganda putra ketujuhnya bersama Gordon Reid, tampil di bawah performa terbaiknya. Ia melakukan tiga double fault di game servis pertama, enam di set pertama, dan total sepuluh sepanjang laga. “Saya sangat kecewa sekarang,” ujar Hewett seusai pertandingan. “Kemarin saya di puncak, pertandingan luar biasa bersama Gordon. Tapi hari ini bukan penampilan yang saya inginkan. Sepertinya Tokito tidak membaca naskahnya. Selamat untuk dia dan timnya—ini Grand Slam ketiganya tahun ini. Saya tahu targetnya ke depan: US Open. Semoga ada yang bisa menghentikannya.”
Dominasi Oda dan Hewett di pentas Grand Slam nyaris tanpa celah. Namun, statistik menunjukkan pergeseran kekuatan: Oda, yang juga mengalahkan Hewett di final Paralimpiade Paris 2024, kini unggul head-to-head di turnamen major. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin Oda akan mengejar rekor Kunieda dalam beberapa tahun ke depan. “Dia pemain luar biasa dan kembali membuktikannya hari ini,” puji Hewett.
Bagi Indonesia, prestasi Oda menjadi pengingat akan pentingnya pembinaan atlet kursi roda sejak dini. Di dalam negeri, tenis kursi roda masih tergolong niche, namun potensinya besar—terbukti dengan lahirnya atlet-atlet seperti Oda yang mulai berlatih di usia belia. Federasi Tenis Internasional (ITF) terus mendorong inklusivitas, dan ajang seperti Wimbledon memberikan panggung global bagi para atlet difabel. Pertanyaan selanjutnya: mampukah Indonesia mencetak pemain sekaliber Oda atau Hewett di masa depan?
Dengan US Open yang akan bergulir dalam beberapa pekan, semua mata tertuju pada Oda. Bisakah ia memperpanjang rekor kemenangan beruntunnya? Ataukah Hewett—atau pemain lain—akan bangkit dan mematahkan dominasinya? Satu hal pasti: persaingan di tenis kursi roda putra belum pernah sekencang ini.



