Pep Guardiola Kembali Masuk Radar Pelatih Timnas Italia Usai Maldini Ambil Alih
Baca dalam 60 detik
- Paolo Maldini resmi menjabat direktur teknis FIGC dengan kontrak empat tahun, membuka peluang besar bagi Pep Guardiola untuk menukangi Italia.
- Gaji Guardiola yang mencapai โฌ25 juta per musim menjadi hambatan utama, meski klub Serie A siap subsidi sebagian.
- Jika gagal, Maldini dan Leonardo punya opsi alternatif seperti Carlo Ancelotti atau Andrea Pirlo.

Nama Pep Guardiola kembali mencuat dalam bursa calon pelatih tim nasional Italia setelah Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) resmi menunjuk Paolo Maldini sebagai direktur teknis dan presiden Club Italia. Maldini, yang mendapat kontrak hingga Piala Dunia 2030, disebut memiliki kewenangan luar biasa untuk merombak total sistem tim nasional dan pembinaan usia muda.
Keputusan FIGC mengangkat Maldini bersama Leonardo sebagai penasihat langsung mengubah peta persaingan kursi pelatih yang sebelumnya didominasi dua nama besar: Roberto Mancini dan Antonio Conte. Keduanya sama-sama pernah menangani Italia, namun masing-masing menyisakan catatan kontroversial. Conte dianggap kurang cocok secara taktik oleh sebagian pihak, sementara keputusan Mancini hengkang ke Arab Saudi pada 2023 masih menyisakan kekecewaan.
Menurut laporan La Gazzetta dello Sport, Maldini dan Leonardo tidak lagi menempatkan Mancini atau Conte sebagai prioritas utama. Justru, Guardiola yang sebelumnya dianggap sekadar mimpi kini kembali menjadi opsi serius. Media yang sama menegaskan bahwa pelatih asal Spanyol itu bukan lagi sekadar fantasi belaka.
Kendala terbesar tetap pada aspek finansial. Guardiola dilaporkan menerima gaji kotor sekitar โฌ25 juta per musim selama masa baktinya di Etihad Stadium. Meski klub-klub Serie A berencana memberikan subsidi untuk mendatangkan pelatih top, kemampuan mereka masih jauh dari standar gaji Guardiola. Namun, La Gazzetta dello Sport menyebut masih ada harapan, terutama jika diskusi antara Maldini dan Leonardo berjalan positif.
Faktor lain yang menguntungkan Italia adalah keinginan Guardiola untuk suatu saat menangani tim nasional. Jika negosiasi gagal, Maldini dan Leonardo memiliki sejumlah opsi cadangan seperti Carlo Ancelotti dan Andrea Pirlo. Keduanya juga memiliki rekam jejak mentereng, meski tidak seterang Guardiola.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, perkembangan ini menarik karena menunjukkan bagaimana federasi sepak bola besar berani melakukan gebrakan dengan merekrut figur kelas dunia. PSSI sendiri tengah gencar membenahi timnas dan pembinaan usia muda, sehingga model kepemimpinan Maldini bisa menjadi referensi. Pertanyaannya, akankah FIGC benar-benar mampu mewujudkan skenario Guardiola, atau kembali ke pilihan yang lebih realistis?



