17 Tahun Setelah Foto di Gerbang Tsinghua, Wu Han Akhirnya Wisuda dari Kampus Impian
Baca dalam 60 detik
- Wu Han, asal Guangdong, meraih gelar master dari Universitas Tsinghua pada Juni 2026, menggenapi mimpi yang terabadikan dalam foto bersama sang ayah 17 tahun lalu.
- Perjalanannya penuh liku: gagal dalam ujian masuk seni (gaokao) karena melenceng dari tema, lalu lulus di tahun berikutnya sebagai salah satu dari hanya 13 mahasiswa Guangdong yang diterima.
- Foto sebelum dan sesudah yang ia unggah viral dengan lebih dari satu juta suka, menjadi simbol ketekunan dan dukungan orang tua dalam meraih pendidikan tinggi.

Seorang perempuan muda dari Guangdong, China, akhirnya mewujudkan mimpi yang telah dipendam sejak kecil: wisuda dari Universitas Tsinghua, 17 tahun setelah foto dirinya digendong sang ayah di gerbang kampus bergengsi itu. Wu Han, kini 26 tahun, menerima gelar master dari Akademi Seni dan Desain Tsinghua pada Juni lalu, mengukir kisah yang menyentuh hati warganet.
Kisah Wu bermula pada 2009, saat ia berusia sembilan tahun dan berlibur ke Beijing bersama ayahnya. Sang ayah, yang pernah gagal menembus Tsinghua, mengabadikan momen dengan menggendong putrinya di depan gerbang universitas. Dalam foto itu, Wu tersenyum lebar sambil menunjukkan tanda kemenangan. Namun, perjalanan menuju kampus impian itu tidaklah mudah.
Wu kecil mulai belajar melukis di taman kanak-kanak atas dorongan ayahnya, yang merupakan lulusan seni rupa dari Akademi Seni Rupa Guangzhou. Meski awalnya menganggap melukis hanya sebagai hobi, Wu kemudian memutuskan menekuni jalur seni saat duduk di bangku sekolah menengah. Ia beralih dari jurusan sains untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi khusus seni, atau yang dikenal sebagai art gaokao.
Rintangan pertama datang saat ujian tahun pertama: karyanya dinilai menyimpang dari tema yang ditentukan, sehingga ia gagal. Tak patah semangat, Wu mengulang setahun dan akhirnya diterima di Tsinghua pada tahun berikutnya. Menurut sang ayah, Akademi Seni dan Desain hanya menerima 13 mahasiswa dari Guangdong pada tahun itu—sebuah seleksi yang sangat ketat.
Selama masa sarjana, Wu berhasil meraih rekomendasi untuk melanjutkan studi pascasarjana, dan ia pun memilih tetap di Tsinghua. Setelah upacara wisuda, ia meminta ayahnya untuk memotret ulang momen 17 tahun lalu. Dengan jubah akademik ungu khas Tsinghua, Wu kembali naik ke punggung sang ayah di gerbang yang sama. “Takdir akan menuntunmu ke tempat yang kau tuju,” ujar Wu, seperti dikutip dari media setempat.
Reaksi sang ayah pun mengharukan. Ia mengatakan bahwa dulu putrinya terasa ringan, namun kini berat. “Ternyata anakku sudah besar, dan aku sudah tua,” katanya. Ia berharap Wu terus maju di bidang desain dan industri internet, dan kelak cucu-cucunya juga bisa kuliah di Tsinghua.
Kisah Wu Han mengingatkan pada fenomena “foto gerbang kampus” yang kerap viral di China, di mana orang tua mengabadikan anak-anak mereka di depan universitas ternama sebagai simbol harapan. Namun, tak semua berakhir manis seperti Wu. Banyak yang gagal, dan hanya segelintir yang berhasil mewujudkan mimpi tersebut. Bagi Indonesia, kisah ini relevan dalam konteks tekanan orang tua terhadap anak untuk masuk perguruan tinggi favorit, seperti UI atau ITB. Namun, perlu diingat bahwa setiap anak memiliki jalannya sendiri, dan kegagalan bukanlah akhir.
Warganet pun ramai berkomentar. “Tatapan sang ayah begitu mantap. Dia hampir tak sanggup menggendong putrinya sekarang, tapi cinta membuatnya tak kenal takut,” tulis seorang netizen. Lainnya bercanda, “Itulah kenapa aku tidak masuk Tsinghua—ayahku tidak pernah mengajakku berfoto di gerbang.”
Ke depan, pertanyaan yang muncul: apakah tradisi foto di gerbang kampus ini akan terus menjadi motivasi atau justru beban bagi generasi muda? Yang jelas, bagi Wu Han, foto itu bukan sekadar kenangan, melainkan bukti bahwa mimpi yang dipupuk sejak kecil, dengan dukungan orang tua, bisa menjadi nyata.



