Karier Conor McGregor di Ujung Tanduk: Cedera 69 Detik dan Kontroversi Hukum
Baca dalam 60 detik
- Conor McGregor hanya bertahan 69 detik di UFC 329 sebelum cedera lutut, menambah deretan kekalahan ketiganya berturut-turut.
- Di luar oktagon, McGregor masih terjerat kasus hukum: kalah banding perdata atas tuduhan kekerasan seksual dan harus membayar ganti rugi.
- Komentator menilai cedera serius bisa mengakhiri karier McGregor, sementara petarung muda seperti Paddy Pimblett siap mengambil alih panggung.

Conor McGregor, bintang terbesar dalam sejarah UFC, kembali menuai sorotan—bukan karena kemenangan, melainkan kekalahan yang hanya berlangsung 69 detik. Dalam laga utama UFC 329 di T-Mobile Arena, Las Vegas, Minggu (13/7), McGregor harus mengakui keunggulan Max Holloway setelah lututnya cedera saat mendaratkan tendangan. Ini menjadi kekalahan ketiga berturut-turut bagi petarung asal Irlandia itu, dan hanya satu kemenangan yang ia raih sejak 2016.
Cedera terjadi di detik-detik awal pertandingan. McGregor gagal mendaratkan tendangan, dan saat mendarat, lutut kirinya tertekuk secara tidak wajar. Ia langsung terlihat kesakitan dan pertandingan pun dihentikan. Menurut komentator UFC, Megan Olivi, McGregor menolak tawaran kruk dan berjalan pincang meninggalkan arena menuju mobilnya. Belum ada pernyataan resmi mengenai tingkat keparahan cedera, namun mantan juara UFC asal Inggris, Michael Bisping, yang bertindak sebagai analis untuk Paramount+, menyatakan kekhawatirannya. “Jika dia harus menjalani operasi ACL dan absen 12 hingga 18 bulan, itu berarti kariernya selesai,” ujar Bisping.
Di luar oktagon, McGregor juga menghadapi badai hukum. Pada November 2024, Nikita Hand memenangkan gugatan perdata terhadap McGregor atas tuduhan pemerkosaan di sebuah hotel Dublin pada Desember 2018. McGregor diperintahkan membayar ganti rugi sebesar £206.000. Banding yang diajukan McGregor pada Juli 2025 pun kandas. Hand kemudian mengumumkan niatnya untuk menuntut McGregor dan dua orang lain atas penyalahgunaan proses pengadilan. McGregor terus membantah tuduhan tersebut, menyatakan dirinya tidak bersalah. “Saya orang yang tidak bersalah dan akan membela ketidakbersalahan saya sampai saya mati,” katanya.
Kekalahan dan kontroversi ini memicu perdebatan tentang masa depan McGregor di UFC. Petarung kelas ringan asal Inggris, Paddy Pimblett, yang menang cepat 52 detik di laga pendamping, dengan gamblang menyebut dirinya sebagai wajah baru MMA. “McGregor sudah selesai. Saya bisa menjadi wajah organisasi ini sekarang,” ujar Pimblett. Sementara itu, juara kelas welter UFC, Islam Makhachev, berkomentar singkat di media sosial: “Conor mengalahkan Conor, selamat Max.”
Bagi penggemar MMA di Indonesia, nasib McGregor menjadi pelajaran tentang betapa cepatnya karier seorang atlet bisa berubah. McGregor, yang pernah menjadi ikon global dan membantu mempopulerkan UFC, kini berada di persimpangan. Dengan satu pertandingan tersisa dalam kontraknya, pertanyaan besarnya adalah: akankah McGregor kembali ke oktagon, atau akankah cedera dan masalah hukum menjadi akhir dari perjalanannya?



