AS Desak Iran Jamin Keamanan Selat Hormuz: Ancaman Blokade Berujung Perang Harga Minyak
Baca dalam 60 detik
- Washington menuntut Teheran secara terbuka berkomitmen menghentikan serangan terhadap kapal di Selat Hormuz dan membuka jalur tanpa pungutan.
- Oman memediasi negosiasi teknis dan politik antara Iran-AS, di tengah eskalasi militer yang mengancam pasokan seperlima minyak dunia.
- Kenaikan harga minyak akibat blokade Hormuz berpotensi memicu inflasi global, termasuk Indonesia yang bergantung pada impor energi.

Pemerintah Amerika Serikat mendesak Iran untuk secara terbuka menyatakan akan menghentikan serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz, serta menjamin seluruh jalur pelayaran bebas tanpa pungutan. Langkah ini muncul setelah eskalasi militer pekan ini yang mengancam stabilitas pasokan energi global.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan mitranya dari Oman, Sayyid Badr Albusaidi, pada Sabtu (11/7) membahas mekanisme pengamanan pelayaran di selat strategis tersebut. Pembicaraan ini merupakan bagian dari upaya mediasi yang difasilitasi Oman, yang selama ini menjadi perantara antara Teheran dan Washington. Menurut pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Iran, kedua menteri bertukar pandangan mengenai "mekanisme yang tepat untuk memastikan pelayaran aman" di Selat Hormuz, sesuai dengan kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya disepakati.
Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi pasokan minyak dunia. Sebelum perang pecah pada 28 Februari lalu, sekitar seperlima minyak bumi global melintasi perairan ini. Blokade efektif yang dilakukan Iran sejak dimulainya operasi militer AS-Israel telah menyebabkan lonjakan harga energi dan memicu inflasi di berbagai negara. Situasi ini menjadi tekanan politik bagi Presiden AS Donald Trump menjelang pemilihan kongres November mendatang.
Menurut laporan CNN, Oman telah mengajukan rancangan proposal yang membagi Selat Hormuz menjadi dua koridor. Koridor selatan di perairan teritorial Oman akan bebas dilayari tanpa hambatan, sementara kapal yang melintasi koridor utara di perairan Iran harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari Teheran, namun tanpa dikenakan biaya. Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri AS belum memberikan tanggapan resmi terhadap proposal tersebut.
Di tengah negosiasi, ketegangan justru meningkat. Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, dalam pernyataan tertulis pada Sabtu mengancam akan membalas dendam atas kematian pendahulunya yang tewas pada 28 Februari. Ancaman ini muncul bersamaan dengan unjuk kekuatan di Teheran, di mana ribuan pelayat membawa spanduk bertuliskan "Kami Akan Membunuh Trump". Sementara itu, Trump mengklaim telah memerintahkan militer AS untuk bersiap meluncurkan ribuan rudal jika Iran berupaya membunuhnya.
Bagi Indonesia, eskalasi di Selat Hormuz memiliki implikasi langsung. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap gangguan pasokan akan mendorong kenaikan harga BBM di dalam negeri dan memperburuk tekanan inflasi. Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan ini sebagai bagian dari strategi ketahanan energi nasional, termasuk mempercepat diversifikasi sumber impor dan pengembangan energi terbarukan.
Analis menilai bahwa serangan terhadap kapal-kapal di selat tersebut, meskipun tidak diklaim secara resmi oleh Iran, merupakan taktik negosiasi untuk memperkuat posisi tawar Teheran. Pejabat senior AS mengungkapkan bahwa Iran telah memberi sinyal bahwa serangan terbaru berasal dari "bagian sistem yang sesat", sebuah pernyataan yang dinilai sebagai upaya meredakan ketegangan. Namun, dengan gencatan senjata yang dinyatakan berakhir oleh Trump, masa depan perundingan masih belum pasti.
Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah mediasi Oman menjembatani perbedaan yang semakin dalam, atau justru konflik akan semakin meluas dan mengancam stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia?



