Myanmar Kucurkan Ekspor 1 Juta Ton Kacang-kacangan dan Jagung, Raup 538 Juta Dolar AS
Baca dalam 60 detik
- Myanmar mengekspor lebih dari 1 juta ton kacang-kacangan, jagung, dan wijen dalam tiga bulan pertama fiskal 2026-27, dengan nilai mencapai 538 juta dolar AS.
- India, Thailand, dan China menjadi pasar utama, sementara komoditas ini menempati 20 persen lahan pertanian Myanmar setelah padi.
- Ekspor ini berpotensi memengaruhi pasokan dan harga komoditas serupa di Indonesia, terutama kacang hijau dan jagung impor.

Myanmar mencatat lonjakan ekspor komoditas pertanian pada awal tahun fiskal 2026-27. Dalam tiga bulan pertama sejak April, negara tersebut mengirimkan lebih dari satu juta ton kacang-kacangan, jagung, dan biji wijen ke berbagai negara, dengan total pendapatan menembus 538 juta dolar AS. Data ini dirilis oleh Myanmar Pulses, Beans, Maize and Sesame Seeds Merchants Association pada Jumat (10/7).
Ekspor tersebut menjangkau lebih dari 26 negara, dengan tiga tujuan utama: India, Thailand, dan China. Ketiga negara ini menjadi motor permintaan bagi hasil bumi Myanmar, yang selama ini dikenal sebagai salah satu produsen kacang-kacangan terbesar di Asia Tenggara. Menurut asosiasi tersebut, kacang-kacangan dan aneka polong-polongan merupakan komoditas tanaman pangan kedua terbesar setelah padi, menguasai sekitar 20 persen dari total lahan pertanian Myanmar.
Angka ekspor yang tinggi ini menunjukkan bahwa sektor pertanian Myanmar masih menjadi tulang punggung perekonomian, meskipun negara tersebut menghadapi berbagai tantangan politik dan ekonomi. Namun, di balik keberhasilan ini, terdapat implikasi bagi negara-negara pengimpor, termasuk Indonesia. Sebagai salah satu importir kacang hijau dan jagung, Indonesia perlu mencermati fluktuasi pasokan dari Myanmar yang dapat memengaruhi harga domestik.
Bagi Indonesia, berita ini menjadi sinyal penting. Indonesia termasuk salah satu negara yang mengimpor kacang hijau dan jagung dari Myanmar. Lonjakan ekspor Myanmar ke India dan China dapat mengalihkan pasokan yang biasanya masuk ke Indonesia, sehingga berpotensi menaikkan harga di pasar lokal. Di sisi lain, jika Myanmar terus meningkatkan produksi, justru bisa membuka peluang bagi Indonesia untuk mendapatkan pasokan dengan harga lebih kompetitif.
Menurut analis pertanian, keberhasilan Myanmar mengekspor dalam jumlah besar juga menunjukkan bahwa infrastruktur logistik dan perdagangan mereka masih berfungsi, meskipun ada sanksi internasional. Hal ini patut diwaspadai karena dapat memicu persaingan harga di pasar regional. Ke depan, Indonesia perlu menjalin kerja sama bilateral yang lebih erat dengan Myanmar untuk memastikan ketersediaan pasokan, terutama jika permintaan dari China dan India terus meningkat.
Pertanyaan yang muncul kemudian: akankah Indonesia mampu memanfaatkan momentum ini untuk menstabilkan harga pangan dalam negeri, atau justru akan terhimpit oleh persaingan permintaan dari negara-negara raksasa Asia?



