Liburan Musim Panas Jepang Terpukul Yen Lemah: Perjalanan ke Luar Negeri Anjlok 9%
Baca dalam 60 detik
- JTB memperkirakan jumlah perjalanan luar negeri warga Jepang pada musim panas 2026 turun 8,8% menjadi 2,17 juta, pertama kali menurun sejak pemulihan pascapandemi.
- Yen yang terus melemah dan kenaikan biaya bahan bakar penerbangan membuat destinasi jarak jauh seperti Amerika Utara dan Australia ditinggalkan, digantikan Korea Selatan dan Taiwan.
- Polarisasi pengeluaran terlihat: sebagian wisatawan memotong durasi liburan, sementara yang lain tetap membelanjakan lebih banyak untuk perjalanan impian mereka.

Musim panas tahun ini menjadi ujian berat bagi industri pariwisata Jepang. Biro perjalanan terkemuka JTB Corp. memproyeksikan jumlah warga Jepang yang bepergian ke luar negeri pada periode liburan musim panas (15 Juli–31 Agustus) akan merosot 8,8% menjadi hanya 2,17 juta perjalanan—penurunan pertama sejak lonjakan pascapandemi pada 2023. Penyebab utamanya: yen yang terus terpuruk dan biaya perjalanan yang membengkak.
Menurut laporan JTB, rata-rata pengeluaran per orang per perjalanan ke luar negeri diperkirakan naik 6,3% menjadi 323.000 yen (sekitar Rp34 juta). Namun, kenaikan itu bukan pertanda kemewahan, melainkan cerminan dari lemahnya daya beli yen di pasar global. Selain itu, biaya bahan bakar penerbangan yang melonjak akibat ketegangan di Timur Tengah turut mendorong kenaikan fuel surcharge, membuat tiket pesawat semakin mahal.
Akibatnya, wisatawan Jepang mulai beralih ke destinasi jarak pendek yang lebih terjangkau. Korea Selatan menjadi tujuan favorit dengan pangsa 26,2%, disusul Taiwan 16,2%. Sebaliknya, kunjungan ke China diperkirakan turun drastis menjadi hanya 10,1%—separuh dari tahun lalu—akibat memburuknya hubungan diplomatik antara Tokyo dan Beijing sejak pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi mengenai Taiwan pada November lalu.
Fenomena serupa juga terjadi di dalam negeri. JTB memperkirakan perjalanan domestik turun 4,4% menjadi 69 juta perjalanan, meskipun rata-rata belanja per orang naik tipis 3,2% menjadi 48.500 yen. Wilayah Kanto (termasuk Tokyo) tetap menjadi tujuan utama dengan 19,0%, disusul Kinki (14,9%) dan Hokkaido (11,2%).
Seorang pejabat JTB mengungkapkan adanya polarisasi yang kian tajam di kalangan wisatawan. "Ada yang memangkas biaya dengan memperpendek durasi liburan, namun ada pula yang tetap ingin mewujudkan perjalanan impian meskipun harus merogoh kocek lebih dalam," ujarnya. Survei online yang dilakukan JTB pada Juni 2026 terhadap responden yang merencanakan perjalanan minimal satu malam menjadi basis proyeksi ini.
Bagi Indonesia, tren ini memberikan gambaran menarik. Melemahnya yen membuat Jepang menjadi destinasi yang lebih murah bagi wisatawan Indonesia—sebaliknya, warga Jepang kini lebih memilih berlibur di dalam negeri atau ke negara tetangga yang lebih murah. Hal ini bisa menjadi peluang bagi sektor pariwisata Indonesia untuk menarik lebih banyak turis Jepang yang mencari alternatif hemat, mengingat Indonesia menawarkan destinasi dengan biaya hidup relatif rendah. Namun, persaingan dengan Korea Selatan dan Taiwan yang lebih dekat secara geografis dan memiliki promosi agresif tetap menjadi tantangan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Bank of Japan akan mengambil langkah lebih agresif untuk menopang yen, atau justru membiarkan pelemahan berlanjut demi mendorong ekspor. Jika yen terus terpuruk, bukan tidak mungkin musim panas 2027 akan mencatat penurunan yang lebih dalam lagi—dan industri pariwisata global pun harus bersiap menghadapi pergeseran pola perjalanan yang semakin pragmatis.



