IPO JELI dan BACH Terjun Bebas, RANS justru Meroket: Sinyal Peringatan bagi Pasar Modal?
Baca dalam 60 detik
- Saham JELI dan BACH anjlok pada perdagangan perdana, masing-masing menyentuh batas ARB dan nyaris 10%, sementara RANS melesat 34%.
- JELI dibayangi valuasi tinggi dengan laba tipis dan pendapatan menurun, sementara BACH memiliki risiko likuiditas rendah dan ketergantungan pada grup.
- Kinerja kontras ini mengingatkan investor untuk mencermati fundamental emiten IPO, bukan sekadar euforia awal.

Dua emiten anyar yang baru melantai di bursa awal Juli 2026, PT Niramas Utama Tbk (JELI) dan PT Bach Multi Global Tbk (BACH), langsung mengalami tekanan jual yang signifikan pada Jumat (10/7/2026). Saham JELI ambruk 14,81% ke Rp1.495, menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB), sementara BACH terpangkas hampir 10% ke Rp500. Di sisi lain, PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS) milik Raffi Ahmad justru terbang 34,12% ke batas Auto Rejection Atas (ARA) pada hari pertamanya.
Koreksi tajam JELI dan BACH bukanlah kejutan bagi pengamat pasar. Keduanya memiliki kelemahan fundamental yang telah terlihat sejak prospektus IPO diterbitkan. JELI, produsen makanan ringan bermerek INACO, mencatatkan laba bersih Rp39 miliar pada 2025—melonjak 235% dari tahun sebelumnya. Namun, lonjakan itu berasal dari basis yang sangat rendah dan tidak didukung pertumbuhan pendapatan. Sebaliknya, pendapatan JELI justru menyusut tiga tahun berturut-turut, dari Rp839 miliar (2023) menjadi Rp753 miliar (2025).
Kualitas laba JELI juga dipertanyakan. Arus kas dari aktivitas operasi ambruk sekitar 83% pada 2025, seiring melonjaknya piutang usaha dari Rp104 miliar menjadi Rp174 miliar. Kondisi ini menandakan laba yang tercatat belum tentu berubah menjadi kas, serta meningkatkan risiko gagal bayar distributor. Sementara itu, valuasi saham JELI yang tinggi—dengan rasio harga terhadap laba (PER) di kisaran 31-39 kali—sulit dijustifikasi oleh kinerja riil yang stagnan.
BACH, emiten genset dan infrastruktur telekomunikasi afiliasi Grup Djarum, juga memiliki sejumlah titik rawan. Rasio kasnya sangat tipis, hanya 0,02 kali pada 2025, turun dari 0,09 kali tahun sebelumnya. Artinya, perusahaan memiliki ruang gerak sempit untuk memenuhi kewajiban jangka pendek, sementara dana IPO sebagian dialokasikan untuk modal kerja pembelian genset. Selain itu, ketergantungan pada pihak terafiliasi—seperti TOWR, Protelindo, dan SUPR—membuat kinerja BACH sangat bergantung pada keputusan internal grup.
Risiko lain datang dari rantai pasok. BACH bergantung pada prinsipal genset luar negeri seperti Himoinsa dan Guangdong Westinpower, sehingga rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah dan gangguan pasokan global. Struktur kepemilikan juga menjadi sorotan: prospektus mengungkap opsi pembelian saham oleh PT Global Telekomunikasi Prima (GTP) yang akan meningkatkan kepemilikannya menjadi 51% dalam lima hari kerja setelah pencatatan. Perubahan pengendalian secepat itu menambah ketidakpastian bagi investor.
Sementara itu, IPO RANS berlangsung meriah dengan kehadiran sejumlah konglomerat, seperti Haji Isam (pemilik 1% saham), Axton Salim (Salim Group), Garibaldi 'Boy' Thohir (Adaro), Anindya Bakrie (Kadin), dan Sutanto Hartono (SCTV). Raffi Ahmad menyebut Haji Isam sebagai mentornya. Euforia ini mendorong harga saham RANS melesat ke ARA di hari pertama, namun investor tetap perlu mencermati fundamental perusahaan ke depan.
Bagi investor ritel Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat penting. Euforia IPO seringkali mengaburkan penilaian fundamental. JELI dan BACH menunjukkan bahwa valuasi tinggi tanpa didukung pertumbuhan pendapatan dan arus kas yang sehat berpotensi memicu koreksi. Sebaliknya, RANS yang mendapat dukungan figur publik dan konglomerat justru melesat, namun risiko volatilitas tetap mengintai. Pertanyaan selanjutnya: akankah pola ini berulang pada gelombang IPO berikutnya, atau pasar mulai lebih selektif?



