Prabowo Sindir Parpol: Banyak Patriot, Banyak Juga Bajingan
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto melontarkan kritik tajam terhadap partai politik dalam pidato Hari Koperasi, menyebut setiap parpol memiliki patriot dan 'bajingan'.
- Pernyataan itu diselingi candaan dengan Menteri Pendidikan Abdul Mu'ti soal kelayakan kata 'bajingan' yang dinilai sebagai ekspresi semangat khas Betawi.
- Seruan persatuan dan gotong royong menjadi pesan utama pidato, menekankan bahwa perbedaan tidak boleh memicu perpecahan.

Presiden Prabowo Subianto secara blak-blakan menyindir partai politik dalam pidatonya pada peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 di Jakarta, Minggu (12/7). Di hadapan para menteri dan tamu undangan, ia menyatakan bahwa setiap partai politik memiliki anggota yang patriotik, namun tak sedikit pula yang berperilaku buruk.
"Semua partai banyak patriot dan semua partai banyak bajingannya juga," ujar Prabowo, memicu reaksi hadirin. Kalimat itu ia sampaikan saat mengajak seluruh elemen bangsa untuk kembali ke nilai-nilai luhur seperti saling memaafkan, memahami, dan membantu. Menurutnya, pertikaian hanya akan menghambat kemajuan.
Prabowo menegaskan bahwa perbedaan suku, latar belakang, dan afiliasi politik tidak seharusnya menjadi alasan untuk bermusuhan. "Untuk apa kita bertikai, kita ini satu keluarga," katanya, seraya menekankan pentingnya gotong royong sebagai identitas bangsa.
Usai melontarkan pernyataan kontroversial itu, Prabowo sempat berkelakar dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti. Ia bertanya apakah seorang presiden boleh menggunakan kata 'bajingan' dalam pidato resmi. "Presiden boleh ngomong bajingan? Aku enggak tanya kalian, aku tanya Menteri Pendidikan ini, boleh enggak?" ujarnya disambut tawa.
Prabowo kemudian menjelaskan bahwa kata tersebut bukan termasuk umpatan kasar, melainkan ekspresi semangat yang lazim dalam bahasa Betawi. "Ini kan tidak termasuk kasar, bajingan ya bajingan. Memang saya lahir di Betawi, jadi maaf kalau saya semangat kata-kata Betawi keluar. Sorry ye," katanya.
Pernyataan Prabowo ini menjadi sorotan karena dianggap sebagai kritik terbuka terhadap perilaku politisi yang kerap mengedepankan kepentingan golongan. Di tengah upaya pemerintah membangun koalisi besar, sindiran semacam itu bisa dibaca sebagai pengingat agar partai politik menjaga etika dan mengutamakan kepentingan nasional.
Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Andi Yusran, menilai bahwa gaya komunikasi Prabowo yang blak-blakan dan kadang nyeleneh justru efektif untuk menyampaikan pesan moral. "Dia menggunakan bahasa rakyat yang mudah dipahami, tapi tetap mengandung kritik substansial. Ini cara untuk mendekatkan diri dengan publik tanpa kehilangan wibawa," ujarnya.
Ke depan, pernyataan ini berpotensi memicu reaksi dari partai politik yang merasa disindir. Namun, Prabowo tampaknya sengaja memilih momen Hari Koperasiโyang identik dengan semangat gotong royongโuntuk menekankan bahwa persatuan harus di atas segalanya. Pertanyaannya, akankah para elite partai menangkap pesan ini dan berbenah, atau justru akan memperlebar jurang polarisasi?



