Konsumsi Beras Jepang Anjlok, Pemerintah Dorong Inovasi Tepung Beras
Baca dalam 60 detik
- Konsumsi beras per kapita di Jepang turun 6,1% dalam setahun terakhir, mencapai level terendah dalam tujuh tahun.
- Kementerian Pertanian Jepang menggelar pameran produk tepung beras untuk mendorong diversifikasi pangan, dari kue kering hingga brownies.
- Pemerintah menargetkan permintaan tepung beras naik dua kali lipat menjadi 130.000 ton pada 2030, seiring revisi undang-undang stabilisasi pangan.

Kebiasaan masyarakat Jepang mengonsumsi nasi sebagai makanan pokok terus tergerus. Data terbaru menunjukkan rata-rata konsumsi beras per kapita per bulan di Negeri Sakura turun 6,1 persen menjadi 4.435 gram pada tahun yang berakhir Maret 2026 โ angka terendah dalam tujuh tahun terakhir. Menghadapi tren ini, Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang (MAFF) tidak tinggal diam. Mereka mulai gencar mempromosikan tepung beras sebagai alternatif bahan baku aneka kue dan camilan, dengan harapan bisa membangkitkan kembali permintaan beras di tengah perubahan selera konsumen.
Awal Juli lalu, MAFF menggelar pameran produk tepung beras yang diikuti 22 produsen dari berbagai prefektur. Dalam acara tersebut, beragam kue kering seperti kukis, baumkuchen, hingga brownies dipamerkan dengan kandungan tepung beras bervariasi, mulai dari 10 persen hingga 100 persen. Salah satu peserta, Edelweiss Co., perusahaan gula-gula asal Amagasaki, Prefektur Hyogo, memperkenalkan polvoron โ kue shortbread khas Spanyol yang biasanya menggunakan tepung gandum panggang โ yang dibuat dengan tepung beras. Menurut juru bicara perusahaan, penggunaan tepung beras menghilangkan kebutuhan proses pemanggangan dan memberikan sentuhan Jepang pada kue tradisional tersebut.
Menteri Pertanian Norikazu Suzuki yang hadir dalam pameran itu menargetkan permintaan tepung beras akan berlipat ganda dari angka tahun 2025 menjadi 130.000 ton pada 2030. โKami berharap konsumen memilih produk tepung beras karena rasanya yang lezat,โ ujarnya. Target ini menjadi bagian dari strategi pemerintah mengatasi kelebihan produksi beras, yang diperparah oleh penurunan konsumsi. Pada Juni lalu, parlemen Jepang telah mengesahkan revisi undang-undang tentang pasokan dan harga pangan pokok untuk mencegah produksi beras berlebih. Suzuki berjanji pemerintah akan mendorong permintaan tepung beras dan produk olahan beras lainnya.
Fenomena penurunan konsumsi beras di Jepang bukanlah hal baru. Seiring modernisasi gaya hidup, masyarakat Jepang beralih ke roti, pasta, dan mi instan yang lebih praktis. Namun, tepung beras menawarkan keunggulan kompetitif: bebas gluten, sehingga aman bagi penderita alergi gandum. Permintaan global terhadap tepung beras pun meningkat. Dalam sesi diskusi yang digelar bersamaan dengan pameran, para koki terkenal dan penggiling tepung menekankan pentingnya mengedukasi masyarakat tentang manfaat kesehatan tepung beras serta perbedaannya dengan tepung gandum.
Bagi Indonesia, langkah Jepang ini bisa menjadi pelajaran berharga. Meskipun konsumsi beras di Indonesia masih tinggi, tren diversifikasi pangan mulai terlihat, terutama di kalangan generasi muda yang lebih terbuka pada produk olahan non-beras. Inovasi tepung beras sebagai bahan baku kue dan camilan bisa menjadi celah pasar baru bagi petani dan pengusaha lokal. Apalagi, Indonesia adalah produsen beras utama di Asia Tenggara. Jika Jepang berhasil mendongkrak permintaan tepung beras, bukan tidak mungkin produk serupa bisa dikembangkan untuk pasar domestik dan ekspor. Pertanyaannya, seberapa siap industri tepung beras Indonesia menangkap peluang ini?



