Courtois Bersedia Bela Belgia Lagi, Asal Beban Dikurangi
Baca dalam 60 detik
- Thibaut Courtois membuka peluang kembali memperkuat Timnas Belgia setelah sempat mengancam pensiun.
- Kiper Real Madrid itu meminta jadwal internasional yang lebih ringan, termasuk absen di Nations League demi pemulihan.
- Keputusan ini bergantung pada respons federasi Belgia; jika ditolak, Courtois bisa tetap mundur.

Thibaut Courtois, kiper utama Timnas Belgia, menyatakan kesediaannya untuk melanjutkan karier internasionalnya dengan satu syarat: ia ingin dikurangi beban tugasnya dalam beberapa bulan ke depan. Pernyataan ini muncul setelah ia sempat mengisyaratkan pensiun dari tim nasional usai Piala Dunia 2026.
Courtois, yang telah mengoleksi 115 caps sejak debut pada 2011, mengalami cedera ringan pada paha saat laga perempat final Piala Dunia melawan Spanyol. Ia ditarik keluar pada menit-menit akhir, dan penggantinya, Senne Lammens, melakukan kesalahan yang berujung pada gol kemenangan Spanyol di menit ke-88. Insiden itu memicu spekulasi bahwa Courtois akan meninggalkan timnas.
Namun, dalam wawancara terbaru, kiper berusia 34 tahun itu mengaku terbuka untuk tetap bermain asalkan federasi sepak bola Belgia memberinya jadwal yang lebih longgar. โSaya sudah memberi tahu bahwa saya ingin tahun yang lebih tenang, di mana saya bisa tinggal di Madrid selama kampanye Nations League untuk fokus pada pemulihan,โ ujar Courtois. Ia menambahkan bahwa kiper-kiper muda seperti Lammens, Mike Penders, atau Maarten Vandevoordt bisa mengisi posisinya untuk sementara.
Keputusan Courtois untuk tetap bertahan sangat bergantung pada respons federasi. โJika mereka menerima permintaan saya, maka saya terbuka untuk melanjutkan,โ tegasnya. Namun, jika federasi menolak, bukan tidak mungkin Courtois akan benar-benar pensiun dari timnas. Sikap ini menunjukkan bahwa Courtois ingin memprioritaskan kebugaran fisiknya, terutama setelah musim yang padat bersama Real Madrid.
Insiden penggantian Courtois pada laga melawan Spanyol menjadi sorotan. Pelatih Rudi Garcia memutuskan menariknya keluar setelah Courtois mengeluh tidak bisa melakukan tendangan gawang jarak jauh akibat nyeri pada paha. โSaya bisa saja tetap di gawang, tetapi pelatih berkata, โJika Anda tidak 100 persen, saya akan mengganti Anda.โ Itu bukan masalah. Tim adalah yang utama,โ jelas Courtois. Ia juga membela Lammens yang disalahkan atas kekalahan tersebut, mengatakan bahwa kesalahan adalah bagian dari sepak bola dan kiper muda itu akan menjadi lebih kuat.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Courtois mengingatkan pada dilema yang sering dihadapi pemain bintang: antara loyalitas pada tim nasional dan tuntutan klub. Di Indonesia, beberapa pemain naturalisasi seperti Jordi Amat dan Shayne Pattynama juga harus mengatur jadwal agar bisa tampil optimal baik di klub maupun timnas. Kasus Courtois bisa menjadi contoh bagaimana federasi perlu bernegosiasi dengan pemain untuk menjaga performa jangka panjang.
Ke depan, keputusan federasi Belgia akan menentukan apakah Courtois masih akan berseragam merah di Piala Dunia mendatang. Jika ia diberi izin untuk absen di Nations League, ia bisa kembali dengan kondisi prima. Namun, jika permintaannya ditolak, Belgia harus siap kehilangan salah satu kiper terbaik dunia. Pertanyaannya, apakah federasi bersedia mengakomodasi permintaan khusus seorang bintang?



