Suku Bunga Tinggi, Pengusaha Mobil Bekas Putar Otak: Ini Strategi Autopedia
Baca dalam 60 detik
- CEO Autopedia mengandalkan bisnis lelang dan penjualan mobil bekas sebagai motor pertumbuhan di tengah ketidakpastian ekonomi global 2026.
- Kenaikan BI Rate dinilai tidak langsung membebani perusahaan karena minim utang, namun berpotensi menekan daya beli konsumen dan volume penjualan.
- Pelaku industri otomotif dituntut berinovasi dalam pembiayaan dan efisiensi operasional untuk menjaga margin di era suku bunga tinggi.

Era suku bunga tinggi memaksa para pemain industri otomotif, khususnya di segmen mobil bekas, untuk memutar otak menjaga pertumbuhan bisnis. CEO PT Autopedia Sukses Lestari Tbk (ASLC), Armeza Farhansyah Umar, mengungkapkan bahwa perusahaan tetap mengandalkan penjualan mobil bekas dan lelang kendaraan sebagai penopang utama di tengah gejolak ekonomi global yang masih berlangsung pada 2026.
Dalam wawancara dengan program AutoBizz CNBC Indonesia, Armeza menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) tidak berdampak langsung terhadap struktur keuangan perusahaan. Sebab, Autopedia tidak memiliki utang yang signifikan. Namun, ia mengakui bahwa tekanan justru datang dari sisi permintaan pasar. Daya beli masyarakat yang tergerus akibat bunga kredit yang lebih tinggi berpotensi memperlambat laju penjualan kendaraan, baik baru maupun bekas.
Fenomena ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha di sektor otomotif. Di satu sisi, mereka harus menjaga volume penjualan, di sisi lain biaya operasional dan pembiayaan konsumen ikut terpengaruh oleh kebijakan moneter yang ketat. Armeza menekankan bahwa strategi yang tepat diperlukan untuk tetap kompetitif, termasuk melalui efisiensi dan inovasi layanan.
Bagi pasar Indonesia, kondisi ini memberikan gambaran bahwa sektor otomotif, khususnya kendaraan bekas, masih memiliki daya tahan relatif lebih baik dibandingkan segmen kendaraan baru. Harga yang lebih terjangkau dan skema pembiayaan yang fleksibel menjadi nilai jual utama. Namun, jika suku bunga terus bertahan tinggi dalam jangka panjang, bukan tidak mungkin margin keuntungan para dealer dan platform lelang akan tergerus.
Menurut analis industri, langkah Autopedia yang tidak bergantung pada utang menjadi bantalan yang cukup kuat. Namun, perusahaan tetap harus waspada terhadap perubahan perilaku konsumen yang cenderung menunda pembelian atau beralih ke opsi yang lebih murah. Inovasi dalam layanan purna jual dan kemudahan transaksi digital bisa menjadi diferensiasi yang krusial.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah seberapa lama suku bunga akan bertahan di level tinggi. Jika Bank Indonesia mulai melonggarkan kebijakan moneter pada paruh kedua 2026, sektor otomotif berpotensi kembali bergairah. Namun, jika tekanan berlanjut, para pengusaha mobil bekas harus terus mencari celah untuk tetap bertumbuh.



