Henry Pollock: Bintang Muda Inggris yang Memaksa Pelatih untuk Memberinya Tempat Inti
Baca dalam 60 detik
- Henry Pollock mencetak hat-trick dalam kemenangan telak Inggris 73-8 atas Fiji, menambah koleksinya menjadi enam try dalam 12 penampilan internasional.
- Dengan rata-rata satu try setiap 56 menit di level internasional, Pollock menjadi dilema bagi pelatih Steve Borthwick yang masih ragu menurunkannya sebagai starter.
- Argentina akan menjadi ujian berikutnya bagi Pollock, di mana ia berpotensi kembali menjadi sorotan utama.

Henry Pollock kembali membuktikan naluri mencetak try-nya yang luar biasa saat Inggris menghancurkan Fiji 73-8 dalam pertandingan Nations Championship akhir pekan lalu. Pemain berusia 21 tahun itu mencetak hat-trick yang membuatnya menjadi pusat perhatian, memicu perdebatan baru: apakah ia sudah pantas menjadi starter tetap di tim utama?
Pollock, yang hanya sekali menjadi starter dalam 12 caps internasionalnya, masuk dari bangku cadangan saat Inggris sudah unggul 27 poin dan Fiji bermain dengan 14 pemain setelah kartu merah Simione Kuruvoli. Dengan ruang yang luas dan pertahanan lawan yang mulai rapuh, ia memanfaatkan peluang dengan sempurna. Try pertamanya lahir dari kecepatan mengejar tendangan Ben Earl, sementara try kedua dan ketiga menunjukkan akselerasi dan kelincahannya yang sulit diantisipasi.
Mantan pemain sayap Inggris Chris Ashton, yang berkomentar untuk BBC Radio 5 Live, bahkan sudah memprediksi hat-trick Pollock sebelum pertandingan berakhir. "England punya anak muda yang bisa mengubah permainan dengan cara yang berbeda. Saya tidak tahu apa yang kita tunggu. Hentikan main-main dan masukkan dia. Dia harus menjadi starter minggu depan," ujar Ashton.
Namun, pelatih Steve Borthwick masih bersikap hati-hati. "Kamu bisa membenarkan kedua cara (starter atau cadangan). Banyak orang yang terlibat dalam menciptakan try-try itu. Saya tahu media suka menyorot individu," kata Borthwick. Keraguan ini beralasan: satu-satunya starter Pollock terjadi saat Inggris dikalahkan Irlandia di Six Nations tahun ini, di mana lini belakangnya yang terdiri dari Pollock, Ben Earl, dan Tom Curry kalah dominasi dari lawan.
Pertandingan melawan Fiji memang bukan tolok ukur ideal. Lawan yang kewalahan dan bermain dengan 10 pemain membuat performa Pollock sulit dijadikan patokan. Namun, statistiknya yang mencetak satu try setiap 56 menit di level internasional adalah angka yang sulit diabaikan. Ditambah dengan kemampuannya di breakdown dan kerja keras tanpa bola, Pollock menawarkan dimensi berbeda yang jarang dimiliki pemain Inggris lainnya.
Bagi penggemar rugbi di Indonesia, perkembangan Pollock menarik untuk diikuti. Ia mewakili generasi baru pemain yang mengandalkan kecepatan dan kecerdasan, bukan sekadar fisik. Jika Borthwick berani memberinya tempat inti, Inggris bisa memiliki senjata baru yang mematikan. Namun, jika ia terus dimainkan sebagai supersub, potensinya mungkin tidak akan tergali maksimal.
Argentina, lawan Inggris selanjutnya, akan menjadi ujian sesungguhnya. Tim Amerika Selatan terkenal dengan pertahanan disiplin dan permainan fisik yang keras. Mampukah Pollock mengulangi performanya melawan Fiji? Atau justru Borthwick akan kembali memainkannya dari bangku cadangan? Keputusan ini akan menjadi indikator sejauh mana pelatih percaya pada bakat mudanya.



