Kecelakaan Speedboat di Phu Quoc: 15 Turis India Tewas, Vietnam Kembali Berduka
Baca dalam 60 detik
- Sebuah speedboat yang mengangkut 36 orang, mayoritas turis India, terbalik di perairan Phu Quoc, menewaskan 15 orang.
- Ombak besar dan angin kencang diduga menjadi penyebab kecelakaan, memperpanjang daftar tragedi transportasi laut di Vietnam.
- Kedutaan India membuka pusat darurat di Ho Chi Minh City dan Hanoi, sementara otoritas Vietnam masih melakukan pencarian.

Lima belas turis asal India tewas setelah speedboat yang mereka tumpangi terbalik di lepas pantai Pulau Phu Quoc, Vietnam selatan, Sabtu (11/7). Peristiwa ini menjadi tragedi terbaru dalam rentetan kecelakaan transportasi laut yang kerap menghantui industri pariwisata Vietnam.
Speedboat tersebut mengangkut 32 turis India, tiga awak, dan satu petugas, dengan total 36 orang di dalamnya. Dua puluh satu penumpang berhasil selamat, sementara 15 lainnya ditemukan tewas. Kapal dilaporkan berangkat dari Pulau Hon May Rut menuju Pelabuhan An Thoi, namun terbalik sekitar 400 meter setelah meninggalkan dermaga.
Otoritas setempat, seperti dikutip VnExpress, menyebut kondisi laut sedang buruk dengan gelombang tinggi. Nguyen Tien Hai, pejabat Partai Komunis setempat, mengatakan dugaan awal penyebab kecelakaan adalah angin kencang dan ombak besar yang membuat speedboat oleng. Tim penyelamat yang terdiri dari kapal wisata dan penjaga pantai berhasil mengevakuasi sejumlah korban selamat dari air.
Kedutaan Besar India di Vietnam menyatakan pihaknya terus memantau perkembangan dan telah mendirikan pusat tanggap darurat di Ho Chi Minh City dan Hanoi untuk membantu keluarga korban. Dalam pernyataannya, KBRI menyebut insiden ini sebagai "tragedi" dan masih menunggu detail lengkap dari otoritas setempat.
Pulau Phu Quoc selama ini menjadi destinasi favorit wisatawan asing, dengan lebih dari 1,8 juta kunjungan mancanegara tahun lalu. Namun, di balik pesona pantai dan terumbu karangnya, keselamatan transportasi laut masih menjadi masalah serius. Kecelakaan speedboat dan kapal wisata kerap terjadi di Vietnam, dipicu oleh cuaca ekstrem, banjir, dan perawatan armada yang buruk. Pada Juli tahun lalu, 39 orang tewas ketika sebuah kapal wisata di Teluk Ha Long terbalik akibat badai mendadak.
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat akan pentingnya standar keselamatan angkutan laut, terutama di destinasi wisata bahari seperti Bali, Labuan Bajo, atau Raja Ampat. Otoritas Indonesia perlu mengevaluasi prosedur keselamatan kapal wisata, termasuk pemantauan cuaca dan kelayakan kapal, untuk mencegah insiden serupa. Vietnam sendiri kini menghadapi tekanan untuk memperketat regulasi keselamatan pelayaran, terutama di kawasan wisata yang padat.
Pencarian korban masih berlangsung, sementara keluarga korban menanti kepastian. Pertanyaan besar yang tersisa: apakah industri pariwisata Vietnam akan segera mengambil langkah konkret untuk mencegah tragedi serupa, atau kecelakaan ini hanya akan menjadi catatan lain dalam daftar panjang kelalaian keselamatan?



