Pensiun di Lord's: Heather Knight Tutup Karier Internasional Setelah 16 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Kapten legendaris Inggris, Heather Knight, mengumumkan pensiun dari kriket internasional di akhir Tes melawan India di Lord's, menutup karier dengan rekor 320 penampilan.
- Di bawah kepemimpinannya, Inggris merebut Piala Dunia 2017 di kandang sendiri, namun dua final berikutnya kandas di tangan Australia.
- Kepergian Knight dan Tammy Beaumont menandai era transisi bagi tim Inggris, sekaligus membuka peluang regenerasi pemain muda.

Heather Knight, kapten yang membawa Inggris meraih gelar Piala Dunia 2017, resmi mengakhiri pengabdiannya di kriket internasional pada usia 35 tahun. Pengumuman itu disampaikan di tengah laga Tes melawan India di Lord's, stadion yang menjadi saksi kejayaan terbesarnya.
Knight mencatatkan 320 penampilan internasional—rekor terbanyak untuk pemain wanita Inggris—sejak debut pada 2010. Ia memegang ban kapten selama sembilan tahun, memimpin dalam 199 pertandingan, sebelum lengser setelah kekalahan telak di Ashes 2025. Bersama Tammy Beaumont yang juga memutuskan mundur, kepergian Knight meninggalkan celah besar di lini tengah dan atas Inggris.
Pencapaian paling gemilangnya terjadi pada 2017 ketika Inggris menjuarai Piala Dunia 50-over di Lord's, setahun setelah ia menggantikan Charlotte Edwards yang legendaris. Namun, dua final berikutnya—Piala Dunia T20 2018 dan Piala Dunia 50-over 2022—berujung kekalahan dari Australia, rival abadi Inggris. Pada 2020, Knight menjadi pemain Inggris pertama, baik pria maupun wanita, yang mencetak abad di ketiga format internasional.
Dalam pernyataannya, Knight mengaku bersyukur dan merasa beruntung bisa menjalani perjalanan panjang ini. "Sulit pergi karena ruang ganti dan orang-orang di dalamnya telah menjadi konstanta dalam hidup saya selama 16 tahun," ujarnya. Ia menambahkan bahwa pensiun di Lord's, tempat bersejarah baginya, terasa pas. Clare Connor, direktur pelaksana kriket wanita Inggris, memuji kontribusi Knight yang luar biasa sebagai pemain dan pemimpin, yang membantu membentuk tim dan olahraga ini di periode paling signifikan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat kriket wanita tengah tumbuh di Tanah Air. Prestasi Knight menunjukkan pentingnya kepemimpinan yang kuat dan konsistensi performa—pelajaran berharga bagi pembinaan atlet muda Indonesia. Regenerasi pemain seperti yang terjadi di Inggris bisa menjadi contoh dalam membangun tim nasional yang kompetitif di kancah Asia.
Setelah pensiun, Knight telah ditunjuk sebagai manajer umum tim wanita London Spirit di The Hundred, mengindikasikan transisinya ke peran di luar lapangan. Dengan kepergian dua pilar sekaligus, Inggris memasuki babak baru yang penuh tantangan. Mampukah generasi penerus mengisi kekosongan yang ditinggalkan Knight dan Beaumont?



