Rusia Larang Ekspor Solar Demi Jaga Pasokan Dalam Negeri, Dampak ke Harga Minyak Global?
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Rusia memperluas larangan ekspor solar ke seluruh produsen mulai akhir Januari hingga 31 Juli, menyusul serangan drone Ukraina yang melumpuhkan 30% kapasitas kilang minyak.
- Langkah ini merupakan upaya Moskow menstabilkan harga BBM domestik yang tertekan akibat penurunan produksi dan ancaman kelangkaan bahan bakar.
- Keputusan eksportir energi terbesar kedua dunia ini berpotensi memicu kenaikan harga minyak global dan mengganggu rantai pasok solar di Asia, termasuk Indonesia.

Rusia resmi memperluas larangan ekspor solar ke seluruh produsen minyak, sebuah langkah darurat yang diambil untuk mengamankan pasokan bahan bakar di dalam negeri setelah serangkaian serangan drone Ukraina melumpuhkan lebih dari 30 persen kapasitas kilang minyak negara itu. Keputusan yang diumumkan Wakil Perdana Menteri Alexander Novak dalam rapat pemerintah bersama Presiden Vladimir Putin ini berlaku hingga 31 Juli 2025 dan mencakup solar, bahan bakar laut, serta gas oil.
Menurut Novak, pasar bahan bakar Rusia memang sudah menunjukkan tanda-tanda stabilisasi, namun situasinya masih โmenantang.โ Ia mengakui bahwa serangan teroris terhadap infrastruktur sipil, termasuk fasilitas energi, telah merusak sejumlah kilang dan memangkas produksi bensin serta solar secara temporer. โKami akan mulai mengimpor produk minyak pada Juli dan meningkatkan volume produksi dengan menyediakan produk minyak kelas lingkungan yang lebih rendah,โ ujar Novak dalam pertemuan yang disiarkan televisi pemerintah.
Langkah ini menjadi yang terbaru dari serangkaian pembatasan ekspor yang diterapkan Moskow sejak awal 2025. Sebelumnya, pada akhir Januari, pemerintah sudah memberlakukan larangan sementara untuk ekspor solar, tetapi hanya terbatas pada perusahaan yang bukan produsen utama. Kini, seluruh produsen terkena aturan yang sama. Pada awal Juni, Rusia juga melarang ekspor avtur hingga 30 November untuk menjaga stabilitas pasokan di tengah musim liburan.
Kepala Staf Umum Ukraina mengklaim militernya telah menyerang 16 kilang minyak besar dan terminal bahan bakar Rusia antara Januari dan Juni, melumpuhkan lebih dari 30% kapasitas pengilangan. Putin membenarkan bahwa serangan tersebut berkontribusi pada kelangkaan, namun bersikeras situasi masih terkendali. โKami saat ini melihat adanya kekurangan tertentu, tapi itu tidak kritis,โ kata Putin, seraya menambahkan bahwa fasilitas yang rusak sedang diperbaiki dengan cepat.
Yang menarik, Kremlin mengakui pada akhir Juni bahwa mereka berencana membeli gas dari luar negeri untuk menstabilkan pasar domestikโsebuah langkah yang sangat jarang bagi negara yang sejak era 1990-an justru menjadi pengekspor energi besar. Keputusan ini menandai betapa gentingnya situasi pasokan energi Rusia saat ini.
Bagi Indonesia, kebijakan ini perlu dicermati. Rusia adalah salah satu pemasok solar dan minyak mentah utama ke Asia, termasuk Indonesia. Jika larangan ekspor berlanjut, pasokan solar ke pasar Asia bisa berkurang, berpotensi mendorong kenaikan harga acuan minyak dunia. Kementerian ESDM dan BPH Migas mungkin perlu mengantisipasi dampak tidak langsung terhadap harga BBM domestik, terutama jika harga minyak mentah global ikut tertekan ke atas. Di sisi lain, Indonesia yang juga memiliki kilang minyak dengan kapasitas terbatas bisa memanfaatkan peluang impor dari sumber alternatif seperti Timur Tengah atau Afrika.
Ke depan, efektivitas larangan ini akan sangat tergantung pada kemampuan Rusia memulihkan kapasitas kilangnya dan mengamankan pasokan dari impor. Jika serangan Ukraina terus berlanjut, bukan tidak mungkin Moskow akan memperpanjang larangan atau bahkan memperluasnya ke produk lain. Pertanyaannya, akankah langkah proteksionis ini cukup untuk menenangkan pasar domestik, atau justru akan memicu ketegangan baru di pasar energi global?



