Mencari Pewaris Son dan Kane: Tottenham Kian Dekat dengan Eli Junior Kroupi
Baca dalam 60 detik
- Tottenham Hotspur dikabarkan akan merekrut Eli Junior Kroupi dari Bournemouth untuk mengatasi krisis lini depan pasca-kepergian Harry Kane dan penurunan performa Heung-min Son.
- Pemain 20 tahun itu memecahkan rekor gol debut Premier League untuk remaja dengan 13 gol musim lalu, menunjukkan naluri mencetak gol dan fleksibilitas posisi yang mengingatkan pada duet legendaris Spurs.
- Kedatangan Kroupi bisa menjadi solusi jangka panjang, meskipun tekanan besar di pundak pemuda asal Prancis itu patut diwaspadai.

Ketergantungan Tottenham Hotspur pada duet Harry Kane dan Heung-min Son selama nyaris satu dekade meninggalkan lubang yang sulit ditambal. Setelah Kane hengkang dan Son mulai meredup, Spurs kini mengarahkan radar ke Bournemouth: Eli Junior Kroupi, remaja Prancis yang musim lalu memecahkan rekor gol debut Premier League untuk pemain di bawah 21 tahun.
Menurut jurnalis David Schill, Kroupi "dipastikan akan bergabung dengan Spurs" dalam jendela transfer musim panas ini. Langkah Bournemouth yang tengah membidik bintang muda Bayer Leverkusen, Christian Kofane, disebut menjadi pemicu potensial pelepasan Kroupi. Sang pemain sendiri dikabarkan antusias bekerja sama dengan manajer anyar Tottenham, Roberto De Zerbi, meski baru satu musim membela The Cherries.
Musim debut Kroupi di Premier League memang sensasional. Dengan 13 gol, ia melewati catatan Robbie Keane dan Robbie Fowler sebagai remaja paling produktif di musim perdananya. Ia tak hanya tajam di kotak penalti—dengan tingkat konversi gol 25% dan hanya tiga peluang emas yang terbuang—tetapi juga lincah bergerak dari sisi kiri atau sebagai ujung tombak. Fleksibilitas ini mengingatkan pada Son di masa jayanya, ditambah etos kerja tanpa bola yang masuk 7% terbaik di Eropa dalam hal recoveries per 90 menit.
Namun, perbandingan dengan Kane tak bisa dihindari. Dua musim terakhir, Kroupi mengoleksi 35 gol di semua kompetisi—22 gol di Ligue 2 bersama Lorient sebelum pindah ke Bournemouth. Naluri finisnya yang dingin, seperti Kane, membuatnya jarang membutuhkan banyak peluang. De Zerbi, yang sudah mendatangkan enam pemain baru termasuk Sandro Tonali, masih membutuhkan sosok haus gol mengingat hanya Richarlison yang mencapai dua digit gol musim lalu.
Konteks Indonesia: Ketertarikan klub-klub Eropa pada pemain muda seperti Kroupi menjadi cermin bagi pengembangan sepak bola nasional. Indonesia, yang tengah gencar membina pemain usia dini melalui program Garuda Select, bisa belajar dari bagaimana Bournemouth dan Tottenham memanfaatkan data performa untuk merekrut talenta mentah. Keberhasilan Kroupi menembus Premier League di usia 20 tahun juga menunjukkan pentingnya kesempatan bermain reguler bagi pemain muda—sebuah pelajaran bagi klub-klub Liga 1 yang kerap ragu menurunkan pemain belia.
Meski begitu, membebani Kroupi dengan ekspektasi sebagai penerus Kane dan Son bisa menjadi bumerang. Sejarah menunjukkan, tak sedikit wonderkid yang meredup di bawah tekanan klub besar. De Zerbi perlu mengelola ekspektasi dan memberikan waktu adaptasi, terutama jika Spurs juga berniat mempertahankan Dominic Solanke atau memberikan kesempatan pada Mathys Tel. Pertanyaan besarnya: mampukah Kroupi menjadi batu loncatan kebangkitan Tottenham, atau justru menjadi bagian dari siklus kegagalan menggantikan legenda?



