Ken Bates Tutup Usia: Arsitek Kebangkitan Chelsea yang Kontroversial
Baca dalam 60 detik
- Ken Bates, mantan ketua Chelsea dan Leeds United, meninggal di usia 94 tahun di Monako.
- Ia membeli Chelsea seharga ยฃ1 pada 1982, membawa klub dari keterpurukan finansial hingga menjadi papan atas Inggris.
- Bates dikenal sebagai figur keras yang kerap berseteru dengan suporter, namun jasanya mengamankan Stamford Bridge tak terbantahkan.

Ken Bates, tokoh yang mengubah wajah Chelsea dari klub nyaris bangkrut menjadi kekuatan sepak bola Inggris, meninggal dunia pada usia 94 tahun di Monako, Sabtu (11/7). Kabar duka ini disampaikan langsung oleh Chelsea FC melalui pernyataan resmi, mengenang pria yang menjabat sebagai ketua klub selama 22 tahun tersebut.
Pria kelahiran London itu mengambil alih Chelsea pada 1982 dengan harga simbolis ยฃ1, namun harus menanggung utang klub yang saat itu mencapai sekitar ยฃ2 juta. Di bawah kepemimpinannya, Chelsea tidak hanya selamat dari krisis finansial, tetapi juga kembali ke kasta tertinggi dan meraih sejumlah trofi bergengsi: Piala FA (1997, 2000), Piala Liga (1998), dan Piala Winners (1998). Prestasi inilah yang kemudian membuat klub incaran investor kaya, hingga akhirnya dijual ke Roman Abramovich pada 2003 dengan nilai dilaporkan ยฃ140 juta.
Namun, Bates bukanlah sosok yang mudah disukai. Ia dikenal dengan gaya kepemimpinan yang keras dan kerap melontarkan kritik tajam, termasuk melalui kolom program pertandingan yang ditulisnya sendiri. Pada 2002, ia bahkan digugat atas tuduhan pencemaran nama baik setelah menyebut sekelompok suporter sebagai "parasit". Meski kontroversial, banyak pihak mengakui bahwa ketegasannya justru menjadi kunci keberhasilan Chelsea bertahan dari tekanan pengembang properti yang ingin mengambil alih Stamford Bridge.
Salah satu warisan terbesarnya adalah pendirian Chelsea Pitch Owners (CPO), sebuah organisasi nirlaba yang membeli hak atas nama stadion dan tanah di bawahnya. Langkah ini secara efektif mengamankan masa depan Stamford Bridge dan mencegah pengembang properti mengubah lahan tersebut menjadi proyek komersial. "Ken adalah salah satu figur paling signifikan dalam sejarah modern Chelsea," ujar perwakilan Chelsea Supporters Trust dalam pernyataan resmi. "Ia mengambil alih saat klub berada di masa tersulit, dan berperan menentukan dalam mengamankan masa depan Stamford Bridge serta meletakkan fondasi bagi kesuksesan yang kemudian datang."
Setelah meninggalkan Chelsea, Bates tidak lama beristirahat. Pada 2005, ia mengambil alih Leeds United yang saat itu terpuruk di divisi bawah, dan menjabat sebagai pemilik selama hampir delapan tahun. Meski tidak mampu mengulang sukses seperti di Chelsea, masa baktinya di Leeds tetap dikenang sebagai upaya membangkitkan kembali klub bersejarah tersebut.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Bates menjadi pelajaran tentang bagaimana seorang pemilik klub bisa menjadi penyelamat sekaligus figur kontroversial. Di tengah maraknya investasi asing di Liga Indonesia, jejak Bates mengingatkan bahwa kepemilikan klub bukan sekadar soal modal, tetapi juga visi jangka panjang dan keberanian mengambil risiko. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah ada lagi figur sekaliber Bates yang mampu mengubah nasib klub dari jurang kebangkrutan menuju puncak kejayaan?



