Dana Tim Kriket Wanita Pengungsi Afghanistan Akan Diperpanjang Hingga 2032
Baca dalam 60 detik
- ICC akan memperpanjang pendanaan untuk tim kriket wanita pengungsi Afghanistan hingga 2032, didukung oleh ECB, CA, dan BCCI.
- Usulan pengakuan tim sebagai pemain internasional resmi diajukan, namun terkendala sensitivitas politik dan dampak pada kriket pria Afghanistan.
- Langkah ini dianggap sebagai momen penting bagi masa depan kriket wanita Afghanistan di pengasingan.

Nasib tim kriket wanita pengungsi Afghanistan yang terusir sejak Taliban kembali berkuasa pada 2021 mendapat titik terang. Dewan Kriket Internasional (ICC) dipastikan akan memperpanjang pendanaan untuk program dukungan mereka, dengan komitmen yang berpotensi berlangsung hingga 2032.
Keputusan ini diambil setelah satuan tugas khusus yang menangani masalah tersebut merekomendasikan kelanjutan proyek dalam pertemuan di konferensi tahunan ICC di Edinburgh. Rekomendasi itu akan secara resmi disampaikan oleh Wakil Ketua ICC Imran Khwaja dalam rapat dewan pada Sabtu mendatang. Dukungan penuh datang dari tiga dewan kriket terbesar—Inggris (ECB), Australia (CA), dan India (BCCI)—yang juga mendorong ICC untuk mengambil peran lebih besar dalam pendanaan dan sumber daya proyek ke depan.
Sejak menetap di Australia, para pemain wanita Afghanistan terus menekan ICC untuk mengakui mereka kembali sebagai tim internasional dan memberikan pendanaan jangka panjang. Saat ini mereka tengah menjalani tur di Inggris, dan bulan lalu mendesak ICC memberikan 'jawaban jelas' tentang masa depan mereka. Rapat dewan nanti juga akan membahas kerangka waktu pasti pendanaan, namun sumber menyebut komitmen hingga 2032 sangat mungkin disetujui.
Isu yang lebih rumit adalah prospek tim ini untuk bisa memainkan pertandingan internasional resmi. Sebuah makalah formal yang disusun oleh Clare Connor, ketua Komite Kriket Wanita ICC, akan diserahkan ke dewan. Makalah itu berisi proposal agar ICC mengizinkan tim tersebut berlaga di level internasional. Namun, masalah ini sangat kompleks dan sensitif. ICC memiliki tanggung jawab terhadap pejabat Dewan Kriket Afghanistan yang berada di bawah kekuasaan Taliban, dan ada kekhawatiran tentang dampak jangka panjang terhadap kriket pria Afghanistan.
Meski demikian, fakta bahwa isu pertandingan resmi telah dibahas di tingkat dewan dianggap sebagai langkah signifikan. Pertemuan antara pemain Afghanistan dengan Presiden ICC Jay Shah di Lord's sebelum final Piala Dunia T20 Wanita pada 5 Juli lalu disebut-sebut berjalan positif, dengan sejumlah pidato kunci yang diterima baik oleh tokoh berpengaruh. ICC juga diam-diam memperkuat struktur proyek, termasuk menambahkan perwakilan wanita di satuan tugas dan melibatkan kampanye Pitch Our Future untuk memastikan suara pemain terwakili.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat kriket mulai tumbuh di Tanah Air. Keputusan ICC tentang pengakuan tim pengungsi bisa menjadi preseden bagi penanganan atlet diaspora di masa depan, serta menunjukkan bagaimana olahraga bisa menjadi alat diplomasi dan pemberdayaan. Pertanyaan besarnya: akankah ICC berani mengambil langkah berani mengakui tim wanita Afghanistan, atau kepentingan politik akan kembali menghambat?



