Xhaka, dari Bulan-Bulanan Arsenal Jadi Pahlawan Swiss di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Granit Xhaka menangis haru setelah membawa Swiss lolos ke perempat final Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1954, mengalahkan Kolombia lewat adu penalti.
- Karier Xhaka sempat terpuruk di Arsenal karena dicemooh fans, namun bangkit bersama Mikel Arteta, lalu sukses di Bayer Leverkusen dan kini menjadi pemain kunci di Sunderland.
- Perjalanan Xhaka menjadi inspirasi: dari pemain yang dianggap gagal menjadi kapten tim nasional yang disegani, menunjukkan bahwa mental baja dan kerja keras bisa mengubah segalanya.

Granit Xhaka jatuh berlutut dan menangis haru saat Swiss memastikan tiket perempat final Piala Dunia usai menaklukkan Kolombia melalui adu penalti di Vancouver Stadium, Selasa (4/7). Bagi Swiss, pencapaian ini adalah yang pertama sejak 1954. Namun, di balik euforia itu, tersimpan kisah luar biasa tentang kebangkitan seorang pemain yang sempat dianggap gagal di Arsenal.
Xhaka, yang kini menjadi kapten timnas Swiss, adalah simbol perlawanan dan ketangguhan. Tujuh tahun lalu, kariernya di Premier League nyaris berakhir. Saat masih berseragam Arsenal, ia kerap menjadi sasaran cemoohan suporter karena performa yang inkonsisten. Puncaknya pada Oktober 2019, ketika ia diganti saat melawan Crystal Palace dan mendapat ejekan, Xhaka membalas dengan menutup telinga—gestur yang membuatnya dicopot dari ban kapten oleh manajer Unai Emery.
Namun, kedatangan Mikel Arteta mengubah segalanya. Xhaka berhasil merebut kembali kepercayaan fans lewat permainan agresif dan kepemimpinannya di lapangan. Ia kembali memakai ban kapten dan membawa Arsenal juara Piala FA 2020. "Kau selalu bisa mendengarnya," kenang Theo Walcott, mantan rekan setimnya di Arsenal, dalam program Match of the Day. "Di mana pun di tempat latihan, kau bisa mendengar dia berbicara dengan staf, pemain muda, atau pemain senior. Itu sudah seperti itu sejak hari pertama."
Setelah meninggalkan Arsenal, Xhaka bergabung dengan Bayer Leverkusen dan membantu klub Jerman itu meraih gelar ganda tanpa terkalahkan. Musim panas lalu, ia kembali ke Premier League bersama Sunderland yang baru promosi. Perannya sangat krusial: Sunderland tidak hanya bertahan di kasta tertinggi, tetapi juga finis ketujuh dan lolos ke Liga Europa. Jurnalis sepak bola asal Inggris, Ian Murtagh, memuji Xhaka sebagai "pemain paling berpengaruh di kawasan timur laut Inggris sejak Kevin Keegan di Newcastle pada 1982".
Di Piala Dunia ini, Xhaka tidak hanya menjadi kapten, tetapi juga motor permainan. Setelah hasil imbang mengecewakan melawan Qatar, ia memimpin tim bangkit dengan kemenangan dramatis atas Bosnia. Gol penalti di menit akhir menjadi bukti ketenangannya di bawah tekanan. "Saya pikir generasi ini spesial," ujar Xhaka. "Kami sudah lama menunggu kelompok seperti ini. Kami pemain senior berusaha mewariskan pengalaman, dan kami punya mentalitas bahwa sebagai negara kecil, apa pun mungkin terjadi."
Bagi Indonesia, kisah Xhaka bisa menjadi pelajaran berharga. Sepak bola Indonesia kerap dihadapkan pada masalah mentalitas pemain dan tekanan suporter. Transformasi Xhaka dari sasaran ejekan menjadi pahlawan menunjukkan bahwa dukungan yang konsisten dan manajemen yang tepat bisa mengubah potensi menjadi prestasi. Jika Indonesia ingin bersaing di level Asia, membangun mental baja seperti Xhaka adalah kunci.
Swiss kini bersiap menghadapi Argentina, yang nyaris tersingkir oleh Mesir. Meski di atas kertas Argentina lebih diunggulkan, semangat juang Swiss—yang diwakili Xhaka—bisa menjadi pembeda. Bisakah Swiss melanjutkan mimpi mereka? Atau akankah Argentina menghentikan laju tim kejutan ini? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa hari ke depan.



