Jepang Uji Coba Roket Reusable RV-X, Langkah Awal Tekan Biaya Peluncuran
Baca dalam 60 detik
- Badan antariksa Jepang JAXA sukses menguji prototipe roket reusable RV-X di Akita, terbang 40 detik dengan ketinggian 11 meter.
- Uji coba ini menjadi fondasi bagi pengembangan roket Callisto, proyek bersama Prancis-Jerman yang ditargetkan terbang sebelum April 2027.
- Keberhasilan RV-X membuka peluang bagi Jepang menyaingi dominasi SpaceX dalam teknologi roket reusable, sekaligus mengurangi ketergantungan pada roket sekali pakai H3.

Badan Eksplorasi Dirgantara Jepang (JAXA) menorehkan tonggak baru dalam program antariksa negeri Sakura. Sabtu lalu, prototipe roket bernama RV-X berhasil menjalani uji terbang di fasilitas Noshiro, Prefektur Akita, menandai langkah awal Jepang mengadopsi teknologi roket yang dapat dipakai ulang (reusable). Keberhasilan ini diyakini menjadi kunci efisiensi biaya peluncuran satelit di masa depan.
Dalam uji coba tersebut, RV-X mencapai ketinggian maksimal sekitar 11 meter dan bergerak horizontal sejauh 16 meter sebelum mendarat dengan sempurna. Total durasi penerbangan hanya 40 detik, namun cukup untuk memvalidasi sistem kendali dan pendaratan otonom. Manajer proyek Takashi Ito dalam konferensi pers daring mengaku lega karena uji terbang berjalan sesuai rencana.
RV-X bukanlah sekadar proyek mandiri. JAXA menyatakan data dari uji coba ini akan digunakan untuk menyempurnakan desain Callisto, kendaraan reusable yang sedang dikembangkan bersama Badan Antariksa Prancis (CNES) dan Pusat Penerbangan Dirgantara Jerman (DLR). Callisto, yang menggunakan mesin sama dengan RV-X, dijadwalkan menjalani uji terbang sebelum April 2027 dengan target pendaratan dari ketinggian yang lebih tinggi.
Langkah Jepang ini tak bisa dilepaskan dari dominasi SpaceX di pasar peluncuran komersial. Perusahaan milik Elon Musk itu telah mempopulerkan teknologi reusable melalui roket Falcon 9, yang mampu mendaratkan kembali tahap pertamanya secara vertikal. Jepang selama ini mengandalkan roket H3 yang hanya bisa dipakai sekali, sehingga biaya peluncuran per kilogram muatan masih tinggi. Dengan hadirnya RV-X dan Callisto, Jepang berharap bisa memangkas biaya secara signifikan dan meningkatkan frekuensi peluncuran satelit.
Menariknya, sektor swasta Jepang juga tak tinggal diam. Tahun lalu, Honda R&D Co., anak usaha raksasa otomotif Honda Motor Co., sukses melakukan uji terbang roket reusable pertamanya. Ini menjadi sinyal bahwa kompetisi pengembangan roket reusable di Jepang kian memanas, baik di level institusi riset maupun korporasi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. Negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, semakin membutuhkan akses peluncuran satelit yang murah dan cepat untuk keperluan komunikasi, observasi bumi, dan pertahanan. Jika Jepang berhasil menekan biaya peluncuran, bukan tidak mungkin kerja sama antariksa Indonesia-Jepang di masa depan akan lebih efisien. Namun, Indonesia juga perlu mempertimbangkan pengembangan kemampuan dalam negeri agar tidak sekadar menjadi konsumen teknologi.
Ke depan, uji terbang Callisto akan menjadi batu loncatan krusial. Pertanyaan besarnya: mampukah Jepang mengejar ketertinggalan dari SpaceX dan menjadikan roket reusable sebagai tulang punggung program antariksa nasional? Jawabannya akan mulai terlihat dalam beberapa tahun ke depan.



