Topan Bavi Hantam Taiwan, Penerbangan dari Singapura ke Asia Timur Lumpuh
Baca dalam 60 detik
- Topan Bavi, badai terbesar dalam tiga dekade, menyebabkan pembatalan puluhan penerbangan dari Singapura ke Taiwan dan China.
- Korban jiwa dilaporkan di Filipina akibat tanah longsor, sementara Taiwan mengevakuasi ribuan warga dan menyiagakan 28.000 tentara.
- Badai diperkirakan akan mencapai China timur akhir pekan ini, memperparah bencana banjir yang telah melanda wilayah tersebut.

Penerbangan dari Singapura ke sejumlah kota di Asia Timur mengalami gangguan parah akibat terjangan Topan Bavi, yang disebut sebagai siklon tropis terbesar yang mengancam Taiwan dalam lebih dari 30 tahun. Maskapai Singapore Airlines (SIA) terpaksa membatalkan empat jadwal penerbangan pulang-pergi ke Taipei pada Sabtu (11/7), serta sepuluh penerbangan ke Shanghai sepanjang akhir pekan.
Dalam pernyataan resminya, SIA menyatakan akan menghubungi seluruh penumpang yang terdampak untuk memberikan opsi penjadwalan ulang. โSituasi masih sangat dinamis, kemungkinan ada penerbangan lain yang ikut terganggu,โ tulis maskapai tersebut. Selain SIA, EVA Air, China Airlines, dan Xiamen Airlines juga melaporkan pembatalan rute dari Bandara Changi ke kawasan yang dilanda badai.
Topan Bavi telah menimbulkan dampak mematikan di Filipina. Setidaknya 15 orang tewas dan enam lainnya dinyatakan hilang setelah hujan deras memicu tanah longsor di Pulau Mindanao bagian selatan. Di Taiwan, hampir 9.000 warga telah dievakuasi, lebih dari separuhnya berasal dari Kabupaten Hualien di kawasan pegunungan timur. Ribuan sekolah dan perkantoran di utara dan timur pulau itu ditutup, sementara ratusan penerbangan domestik dan internasional dibatalkan.
Menurut Badan Cuaca Pusat Taiwan, radius badai yang mencapai 380 km menjadikan Bavi sebagai topan terbesar yang mempengaruhi pulau tersebut dalam beberapa dekade. Angin kencang dan gelombang tinggi diperkirakan akan terus melanda hingga akhir pekan. Setelah melewati Taiwan dan Jepang bagian barat daya, Bavi diprediksi akan mencapai daratan China timur pada akhir pekan, memperburuk kondisi banjir yang telah menewaskan puluhan orang sebelumnya.
Bagi pelancong asal Indonesia yang hendak transit di Singapura menuju Taiwan atau China, gangguan ini patut diwaspadai. Meski belum ada laporan langsung mengenai dampak terhadap penerbangan dari Indonesia, topan ini berpotensi mengganggu konektivitas regional. Maskapai seperti Garuda Indonesia dan Lion Air yang memiliki rute ke China atau Taiwan disarankan untuk memantau perkembangan cuaca secara ketat.
Para analis meteorologi memperingatkan bahwa perubahan iklim dapat meningkatkan intensitas badai di kawasan Pasifik Barat. Dengan suhu permukaan laut yang lebih hangat, topan seperti Bavi berpotensi menjadi lebih sering dan lebih destruktif. Pertanyaan yang kini mengemuka: sejauh mana kesiapan infrastruktur dan sistem peringatan dini di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dalam menghadapi ancaman serupa?



