Gencatan Senjata AS-Iran Runtuh: Trump Beri Ultimatum Selat Hormuz, Tehran Bantah Langgar Kesepakatan
Baca dalam 60 detik
- Washington memberikan batas waktu hingga Sabtu bagi Iran untuk menghentikan serangan terhadap kapal dagang di Selat Hormuz dan mengakui jalur tersebut terbuka.
- Trump menyatakan gencatan senjata berakhir dan mengancam akan 'menghancurkan total' Iran, sementara Tehran bersikeras telah mematuhi nota kesepahaman.
- Krisis ini mengancam pasokan minyak global dan stabilitas kawasan Teluk, dengan mediator Qatar dan Pakistan berupaya meredakan ketegangan.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden Donald Trump secara sepihak menyatakan gencatan senjata yang rapuh telah berakhir, sementara Tehran bersikukuh tetap mematuhi kesepakatan yang ditandatangani beberapa pekan lalu. Ultimatum baru pun diberikan: Iran harus menghentikan serangan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz dan mengakui jalur perairan strategis itu terbuka untuk navigasi internasional—atau menghadapi konsekuensi militer lebih lanjut.
Trump, melalui platform Truth Social, mengancam akan "menghancurkan total" Iran jika negara itu berupaya membunuhnya. Ancaman itu muncul sehari setelah ia setuju untuk melanjutkan negosiasi dengan Iran, namun tetap menegaskan bahwa gencatan senjata sudah tidak berlaku. "Republik Islam Iran meminta kami untuk melanjutkan 'pembicaraan'. Kami setuju, tetapi Amerika Serikat telah menyatakan kepada mereka, dengan tegas, bahwa Gencatan Senjata SUDAH BERAKHIR!" tulis Trump.
Menlu Iran Abbas Araghchi langsung membalas, menekankan bahwa Tehran "telah menepati janjinya, tidak seperti Menteri Keuangan AS yang melanggar Paragraf 9 nota kesepahaman". Paragraf itu mengatur bahwa Iran akan mempertahankan status quo program nuklirnya, sementara AS tidak akan menjatuhkan sanksi baru atau mengerahkan pasukan tambahan di kawasan. Araghchi menambahkan, "Pelanggaran itu mengikuti pelanggaran dan kesalahan langkah lainnya oleh AS. Realitasnya: hanya ada kepatuhan timbal balik."
Diplomasi yang sempat diharapkan meredakan konflik justru menemui jalan buntu. Sejak penandatanganan nota kesepahaman, hanya satu putaran perundingan langsung yang digelar di Swiss, ditambah negosiasi tidak langsung di Qatar. Tidak ada kemajuan berarti. Sementara itu, laporan Axios dan Politico menyebut Washington memberikan batas waktu hingga Sabtu bagi Iran untuk menghentikan tembakan ke kapal dagang di Selat Hormuz dan mengakui jalur itu terbuka.
Selat Hormuz, yang terdiri dari perairan teritorial Iran dan Oman, menjadi pusat perselisihan. Iran bersikeras harus mengendalikan selat tersebut dan berniat memungut biaya dari kapal yang melintas—klaim yang tidak memiliki dasar hukum internasional. Sebelum perang, Iran tidak memiliki kewenangan semacam itu. AS melancarkan serangan besar-besaran ke Iran pekan ini setelah serangan terhadap kapal-kapal di selat tersebut, yang kemudian memicu serangan balasan terhadap pangkalan AS di Teluk.
Konteks Indonesia: Eskalasi di Selat Hormuz berdampak langsung pada Indonesia sebagai importir minyak mentah. Gangguan pasokan dapat mendorong kenaikan harga minyak global, yang berpotensi membebani anggaran subsidi energi dan memicu inflasi. Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan ini untuk mengantisipasi gejolak harga BBM di dalam negeri.
Diplomasi masih terus berjalan meskipun diwarnai retorika keras. Araghchi dijadwalkan berkunjung ke Oman untuk membahas status selat. Qatar mengirim delegasi ke Tehran untuk memperkuat peran mediasi, setelah sebelumnya mengecam serangan Iran terhadap kapal tanker LNG miliknya. Pakistan, melalui Perdana Menteri Shehbaz Sharif, juga aktif berkomunikasi dengan pemimpin Qatar dan Iran untuk menjaga perdamaian yang susah payah diraih.
Namun, sikap Iran tetap tegas. Negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa "konfrontasi ini tidak akan pernah berakhir dengan penyerahan Iran. Kami sepenuhnya siap membela diri." Pernyataan itu menegaskan bahwa jalan menuju perdamaian masih panjang dan penuh ketidakpastian.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah ultimatum AS akan dipatuhi Iran, atau justru memicu eskalasi baru yang mengancam stabilitas kawasan dan pasokan energi dunia. Dengan tenggat waktu yang semakin dekat, dunia menanti langkah selanjutnya dari kedua kubu.



