iQIYI Luncurkan Platform AI untuk Produksi Film, Selebritas China Protes
Baca dalam 60 detik
- iQIYI meluncurkan Nadou Pro, platform produksi film dan TV berbasis AI yang menggunakan data digital aktor nyata, memicu kontroversi di industri hiburan China.
- Lebih dari 100 selebritas terdaftar di 'AI talent pool', namun beberapa membantah telah menyetujui partisipasi setelah mendapat kecaman publik.
- CEO iQIYI menyebut produksi non-AI bisa menjadi 'warisan budaya takbenda', memicu perdebatan tentang masa depan akting dan kualitas konten.

Platform produksi film dan televisi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang baru diluncurkan di China memicu perdebatan sengit karena menggunakan data digital dari kemiripan fisik dan suara aktor nyata. Nadou Pro, platform milik iQIYIโsetara Netflix di Chinaโdiluncurkan pada April lalu dan telah mendaftarkan lebih dari 100 selebritas dalam apa yang disebut sebagai "AI talent pool". Melalui platform ini, kreator konten dapat bernegosiasi dengan artis terdaftar untuk menggunakan gambar, suara, atau gerakan mereka.
Langkah iQIYI ini terjadi di tengah persaingan ketat industri hiburan China, di mana drama pendek yang sepenuhnya dihasilkan AI tanpa aktor manusia semakin populer. Platform tersebut dikabarkan telah menarik lebih dari 10.000 kreator dan mendukung produksi sekitar 100 karya, termasuk genre fiksi ilmiah, thriller, fantasi, dan drama pendek. Nadou Pro membantu alur kerja dari pengembangan naskah, pembuatan papan cerita, efek visual, hingga produksi akhir, memungkinkan kreator menghasilkan adegan epik dalam hitungan detik.
Keunggulan utama platform ini adalah penghematan biaya besar-besaran karena menghilangkan kebutuhan syuting lokasi dan set yang rumit, serta aktor digital yang dapat diciptakan oleh AI. Namun, kritikus menilai konten yang dihasilkan AI tidak mampu "beresonansi dengan penonton" seperti yang dilakukan aktor manusia. CEO iQIYI, Gong Yu, yang perusahaannya didukung oleh Baidu Inc., pada April lalu menyatakan bahwa produksi live-action yang sama sekali tidak menggunakan AI pada akhirnya bisa menjadi bentuk "warisan budaya takbenda". Pernyataan ini menunjukkan keyakinannya bahwa tren konten hiburan yang dihasilkan AI tidak dapat dihentikan.
Gong Yu juga berargumen bahwa teknologi mutakhir ini dapat memperbaiki kondisi kerja aktor karena menghilangkan kebutuhan jam syuting yang panjang. Namun, pernyataannya justru memicu kemarahan di media sosial, dengan banyak orang mempertanyakan kualitas karya yang dihasilkan melalui platform AI. Setelah mendapat kecaman daring, beberapa selebritas yang awalnya terbuka untuk mendaftar di AI talent pool membantah telah setuju untuk berpartisipasi dalam inisiatif tersebut.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat akan tantangan regulasi dan etika di industri hiburan digital. Dengan maraknya konten buatan AI di platform streaming global, Indonesia perlu mengantisipasi potensi penyalahgunaan data pribadi aktor dan hak kekayaan intelektual. Regulator dan pelaku industri di Tanah Air dapat belajar dari kontroversi di China untuk menyusun kebijakan yang melindungi kreator manusia sekaligus mendorong inovasi teknologi.
Ke depan, pertanyaan mendasar tetap menggantung: akankah penonton menerima aktor digital sebagai pengganti manusia, atau justru menolak konten yang kehilangan sentuhan emosional? Jawabannya akan menentukan arah industri hiburan global, termasuk di Indonesia yang tengah tumbuh sebagai pasar konten digital.



