Jude Bellingham: Dari Kontroversi ke Pilar Timnas Inggris di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Bellingham tampil gemilang dengan empat gol dan satu assist di Piala Dunia, membungkam keraguan akan tempatnya di skuad inti.
- Konflik dengan pelatih Thomas Tuchel sempat mengancam kariernya di timnas, namun ia bangkit dan menjadi pemain kunci.
- Pemain berusia 23 tahun ini kini dianggap sebagai sosok yang matang dan adaptif, siap memimpin Inggris di perempat final.

Jude Bellingham kembali membuktikan bahwa dirinya adalah pemain yang tak tergantikan bagi Timnas Inggris di Piala Dunia 2026. Dengan torehan empat gol dan satu assist dalam lima pertandingan, gelandang Real Madrid ini menjadi salah satu bintang paling bersinar di turnamen yang berlangsung di Amerika Serikat.
Perjalanan Bellingham menuju puncak performa ini tidaklah mulus. Hanya beberapa bulan lalu, namanya sempat diragukan setelah pelatih Thomas Tuchel secara kontroversial mengeluarkannya dari skuad pada Oktober 2025. Tuchel bahkan menyebut bahwa ibunya menganggap perilaku Bellingham di lapangan "agak menjijikkan", meski kemudian ia meminta maaf. Spekulasi pun merebak: apakah Bellingham sudah tidak lagi menjadi pilihan utama?
Namun, Piala Dunia ini menjadi panggung pembuktian. Bellingham mencetak gol krusial saat Inggris mengalahkan Kroasia 3-2, membuka kebuntuan melawan Panama, dan mencetak dua gol dalam kemenangan ikonik atas Republik Demokratik Kongo. Ia meraih tiga penghargaan Pemain Terbaik dalam lima laga, menunjukkan konsistensi yang sulit ditandingi.
Yang menarik, perubahan sikap Bellingham turut menonjol. Jika sebelumnya ia dikenal dengan selebrasi 'who else' yang penuh percaya diri di Euro 2024, kini ia lebih sering memuji rekan setim dan bahkan memberikan penghargaan pemain terbaiknya kepada lawan. "Saya lebih suka assist daripada mencetak gol," ujarnya dalam wawancara, menunjukkan kedewasaan yang kontras dengan citra 'main character syndrome' yang sempat melekat.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Bellingham menjadi pengingat bahwa talenta muda sekalipun harus melalui badai untuk mencapai puncak. Di tengah hiruk-pikuk Piala Dunia yang juga disiarkan luas di Tanah Air, perjalanan Bellingham bisa menjadi inspirasi bagi pesepakbola muda Indonesia yang bermimpi menembus panggung internasional.
Dengan perempat final melawan Norwegia yang menanti, Bellingham berada di ambang mengukuhkan statusnya sebagai legenda. Pertanyaannya, mampukah ia mempertahankan performa ini dan membawa Inggris melangkah lebih jauh? Atau akankah tekanan kembali menghantuinya seperti di Euro 2024? Hanya lapangan hijau yang bisa menjawab.



